Dapil Sumsel I Sumsel Grup “Neraka”

RADAR PALEMBANG, KETAT – Istilah grup neraka tak hanya untuk sepak bola saja. Pada pemilihan umum legislatif (pileg) 2009, pun istilah ini bisa diberlakukan. Lihat saja daerah pemilihan (dapil) Sumsel I untuk DPRD Sumsel, kalau dilihat orang-orang yang bercokol, kiranya julukan ini sangat cocok diberikan.


Neraka tak hanya diberikan dengan alasan ketatnya persaingan di Dapil Susmel I (Kota Palembang). Tetapi karena di Dapil Sumsel I, menjadi arena bertarung seperempat caleg yang ikut pileg 2009 yang kekuatannya boleh dikatakan sama hebat.
Di Dapil I terdapat 306 caleg, dari 1.235 caleg yang lolos verifikasi KPU Sumsel. Bandingkan dengan di Dapil II sebanyak 193 caleg, Dapil II 166 caleg. Lalu Dapil IV yang hanya 139 caleg, Dapil V terdiri 182 caleg, Dapil VI 132 caleg dan Dapil VII 117 caleg bertarung.
Memang kalau melihat jumlah kursi, di DPRD Sumsel jauh lebih besar. Tercatat untuk tahun 2009 mendatang jumlah kursi di DPRD Sumsel bertambah 10 buah dari 65 kursi menjadi 75 kursi. Secara terinci, Dapil I Kota Palembang dengan 16 kursi, Dapil II Banyuasin, Musi Banyuasin ada 16 kursi, lalu Dapil III  OKI, OI sebanyak 11 kursi.
Kemudian, Dapil IV Muara Enim, Prabumulih ada 8 Kursi, Dapil V OKU, OKU Selatan, OKU Timur sebanyak 12 kursi. Berikutnya Dapil VI Lahat,Empat Lawang dan Pagaralam mendapatkan 6 kursi, serta Dapil VII Lubuklinggau, Musi Rawas mendapatkan 6 kursi.
Lantas, mengapa Dapil I dikatakan dapil neraka? Lihat saja nama-nama yang bersaing. Paling tidak ada enam orang anggota DPRD Sumsel yang mencalonkan diri lagi. Dari PKS ada Mohd Iqbal Romzi dan Yuswar Hidayatullah mantan anggota DPRD Sumsel periode 1999 – 2004 yang pernah mengungkap kasus Daops. Dari PAN ada Badrullah Daud Kohar, di PPNUI ada Syarkowi Wijaya (sebelumnya dari PBR). Ada juga Nasrun Anis dari PBB dari Partai Demokrat ada nama Syaiful Islam, dan dari PDIP tercatat nama Syamsudin Abas.
Tetapi jangan lupa, di Dapil Sumsel I ini, banyak pula nama-nama caleg yang “naik kelas”. Jika pada tahun sebelumnya berada di DPRD Kota Palembang, kini maju untuk DPRD Sumsel. Di Partai Serikat Indonesia (PSI) ada nama mantan Sekretaris DPW PAN Sumsel Sunnah NBU, lalu Ahmad Djauhari dari Partai Demokrat, mantan Walikota Palembang Tolha Hasan yang maju dari PDIP.
Lihat juga, Ketua DPC PDI P Kota Palembang Hamzah Sya’ban. Berikutnya dari Partai Golkar, Ketua DPD Kota Palembang dan Ketua DPRD Kota Palembang, M Yansuri, Harmen Abbas, H Sulaiman Zahri, Zuhri Lubis.
Mereka ini patut diperhitungkan karena memang pada pileg sebelumnya maju dari Kota Palembang. Dari sisi konstituen, dan jaringan jelas sudah lebih matang. Meski demikian ketat, namun tak membuat orang-orang yang baru maju gentar. Bahkan dengan posisi sebagai incumbent, bukan tidak mungkin mereka tergelincir. Demikian pendapat caleg dari PDI Perjuangan dinomor urut 1, Ikman Goring. “Idak, idak jugo,” buka Ikman.
“Sebagai incumbent memang meraka ada keuntungan. Seperti jaringan, jelas mereka sudah ada. Lalu dari sisi kepopuleran, juga lebih dikenal dari pada kami. Tetapi jangan lupa, sebagai incumbent justeru ini menjadi celah bagi kami,” imbuh Ikman.
Maksudnya ? Ikman berpedapat, sebagai orang yang sedang menjabat, tentunya masyarakat tahu persis siapa orang tersebut. Akan lebih terlihat apakah yang bersangkutan sudah dekat dengan masyarakat atau tidak.
Juga ke konstituen, masyarakat bisa dengan jelas melihatnya apakah ia memang selama menjabat selalu dekat dengan masyarakat atau tidak. Kalau tidak, dapat dipastikan masyarakat akan menaruh antipati kepada calon tersebut.
“Ini celah bagi kami. Kami bisa bermain disini. Coba lihat, selama menjabat apa yang bisa ia berikan. Ternyata tidak ada kan,” itu salah satu caranya.
Berbeda Ikman, berbeda pula calon dari Partai Partai Demokrat Arudji Kartawinata. Persaingan yang panas di tubuh partai bentukan SBY ini membuat Arudji harus terpental dari Dapil Sumsel I.
Jika sebelumnya ia maju dari Kota Palembang, pada pemilu 2009 mendatang Arudji akan berada di Dapil V (OKU, OKU Selatan, OKU Timur).
“Secara internal partai kebetulan Ketua DPD maju lewat Palembang. Beberapa rekan juga demikian. Secara kebetulan, basis dukungan sama. Jika kami masih dalam satu Dapil, maka konsentrasi akan pecah,” tegas Arudji.
Akibatnya sambung Arudji dirinya harus ke Dapil V. Meski demikian Arudji tak merasa dirinya terpental. Mengingat OKU bukan wilayah yang asing. Pasalnya dirinya menjadi koordinator wilayah OKU.
“Memang saya harus mengulang dari awal lagi. Sebab kalau di Palembang mungkin lebih mudah. Mengingat, apalagi dengan sistuasi sekarang (pemberitaan soal PT Pusri), saya lebih populer. Ini menguntungkan bagi saya. Tetapi tidak apa-apa. Dimana pun saya tetap optimis,” imbuhnya.
Untungnya sambung Arudji dirinya mendapat support dari teman-temannya di Dapil V. Para caleg yang maju untuk DPRD kabupaten OKU, OKU Timur dan OKU Selatan memberikan dukungan penuh.
“Jadi ketika bersosialisasi, kami maju bersama-sama, kampanye bersama-sama. Kami mengenalkan diri bersama-sama. Atau dengan kata lain kami mensinergikan hubungan dengan caleg yang lain. Sebab sulit kalau mau maju sendiri-sendiri,” tandasnya. (rul)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: