Hasan Tiro Tak Kuasa Menahan Tangis

Sesenggukan Peluk Adik Setelah 30 Tahun Terpisah

RADAR PALEMBANG, HSAN TIRO-  Pesan perdamaian di Aceh lengkap sudah. Tiga tahun setelah perjanjian damai pemerintah-GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ditandatangani, Tengku Hasan Muhammad di Tiro, Sabtu (11/10) kembali ke kampung halaman. Dia menangis sesenggukan begitu menginjakkan kaki di lapangan terbang Iskandar Muda pukul 11.42.

Hasan yang mengenakan setelan jas hitam dipadu hem lengan panjang putih dan berdasi merah itu disambut satu-satunya adik kandung yang masih hidup, Siti Aisyah, 80.

Kedua saudara yang terpisah hampir 30 tahun sejak Hasan meninggalkan Indonesia pada 1979 itu pun saling berpelukan. Mata Hasan tampak berkaca-kaca. Bahkan, tangisan mereka tak terbendung. Adik-kakak yang sudah sepuh itu saling melepas rindu dan bercakap dalam bahasa Aceh.

”Saya ucapkan selamat datang kepada Abang. Saya terharu, tidak bisa berkata banyak,” ujar Aisyah dalam bahasa Aceh yang diterjemahkan keponakannya, Murtadlo, kepada Jawa Pos setelah menjemput sang kakak.

Suasana penyambutan benar-benar mengharukan. Begitu tangis Hasan dan adiknya pecah, mata beberapa mantan tentara GAM yang mengamankan kedatangan Hasan, panitia penyambutan dari Partai Aceh, serta Komisi Peralihan Aceh (KPI) ikut berkaca-kaca.

Puluhan ribu warga yang hanya bisa menonton kedatangan Hasan dari luar bandara juga tampak histeris. Mereka datang sejak pagi. Terik matahari siang itu tak mereka hiraukan. Bahkan, banyak yang memanjat pohon agar bisa melihat wajah Hasan yang disebut wali Nangroe itu. ”Wali Nangroe, wali Nangroe,” teriak mereka kepada tokoh yang dikejar TNI setelah mendeklarasikan pemisahan Aceh dari NKRI pada 1976 tersebut.

”Sehari sebelum kedatangan wali negara (Hasan Tiro), banyak warga yang datang di bandara,” ungkap Edwar, 37, petugas porter Bandara Iskandar Muda. ”Banyak yang menginap di lapangan maupun tanah lapang,” ungkapnya.

Tanda-tanda keharuan saat penyambutan Hasan terlihat saat dia menuruni tangga pesawat Fokker 100 yang dicarter dari Malaysia. Lelaki kelahiran Pidie, Aceh, 25 September 1925, tersebut tak bisa berkata apa-apa melihat banyaknya warga yang menyambut.

Saat Hasan masih di tangga pesawat, ada seorang penyambut yang mengumandangkan azan dilanjutkan�tari rapai yang diiringi rebana serta salawat badar sahut-menyahut. Saat menuruni tangga, pria yang kini warga negara Swedia itu digandeng pengawalnya. Sesekali tangannya melambai kepada massa yang menyambut.

Di belakang Hasan, tampak mantan petinggi GAM yang ikut dalam rombongan pesawat dari Malaysia itu. Ada Malik Mahmud (mantan PM), dr Zaini Abdullah (mantan Menlu), mantan Menhan GAM Zakaria Zaman, Ketua Partai Aceh Muzakkir Manaf, serta Gubernur Aceh Irwandi Jusuf. Selain itu, dr Farid Husein dan Juha Chistiensen dari Finlandia yang berperan dalam keberhasilan MOU Helsinki.

Di bandara, sejak pagi beberapa mantan pejabat GAM seperti Sofyan Dawood, mantan Panglima GAM Bate Iiliek Tengku Darwis Jeunib, Kamaruzaman (mantan juru runding GAM), Bachtiar Abdullah (mantan juru bicara GAM di pelarian), serta mantan tokoh GAM yang lain sudah menunggu. Tak terkecuali Wagub Aceh yang juga Ketua SIRA Mohammad Nazar.

Sebelum rombongan Hasan mendarat, satu pesawat carteran sejenis yang membawa rombongan mantan GAM yang selama ini bermukim di Malaysia maupun negara lain tiba pukul 10.55.

Rombongan yang umumnya mengenakan setelan jas hitam-hitam tersebut membawa spanduk dengan dasar warna merah menyerupai bendera GAM, strip hitam dan putih. Satu di antara spanduk itu bertulisan, ”Keberangkatan Tiba. Wali Nangroe Paduka yang Mulia dr Tgk Hasan Muhamad di Tiro (Wali Nangroe Aceh) 29 Maret 1979-11 Oktober 2008.” Spanduk dalam tiga bahasa, yakni bahasa Inggris, Aceh, dan Indonesia, itu dibentangkan saat Hasan mendarat di Bandara Iskandar Muda.

Yang boleh masuk bandara kemarin hanya panitia, mantan tentara GAM, serta keluarga besar Hasan. Wartawan pun harus mengenakan kartu identitas yang dibuat panitia.

Sebelum memasuki Land Rover hitam berpelat nomor BK 20 SD yang membawanya ke Masjid Raya Baiturrahman sejauh 15 kilometer dari bandara untuk berpidato di depan rakyat Aceh, Hasan disambut peusejuk, semacam upacara selamat datang oleh beberapa penari wanita Aceh.

Karena banyaknya wartawan dan warga yang ingin melihat dari dekat Wali Negara Hasan di Tiro, mantan tentara GAM dan panitia penyambutan harus menjaga ekstraketat dengan membentuk barisan orang agar Hasan bisa masuk mobil. Hanya terlihat satu-dua polisi dan tentara.

Ratusan mobil, bus, dan truk yang panjangnya mencapai lima kilometer mengiringi mobil nomor 10 dari depan yang ditumpangi Hasan menuju masjid raya.

Saking panjangnya antrean pengiring mobil itu, saat rombongan di depan sudah mencapai Masjid Lambaro, yang paling belakang baru merangkak keluar dari Bandara Iskandar Muda.

Seperti saat di bandara, puluhan ribu warga Aceh juga memadati halaman Masjid Baiturrahman saat Hasan tiba. Mereka ingin mendengar pidato sang tengku yang kini menetap di Stockholm, ibu kota Swedia, tersebut. Namun, pidato yang ditunggu-tunggu itu hanya singkat. Tak lebih dari lima detik. ”Assalamu ‘alaikum. Nyo uloen katrueh Uaceh (Saya sudah sampai di Aceh, Red),” ujar Hasan lalu duduk.

Sambutan kemudian dilanjutkan Malik Mahmud. Mantan PM itu membaca kertas yang berisi teks pidato tertulis Hasan. (bh/el/jpnn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: