Likuiditas Bank Sumsel Aman

Deposito di Bank Indover Ditarik Sejak Januari 2008

RADAR PALEMBANG, DAMPAK- Krisis perekonomian yang sedang terjadi nampaknya tidak berpengaruh signifikan terhadap likuiditas Bank Sumsel. Bahkan bisa dipastikan likuiditas bank milik pemerintah daerah tersebut aman.
Menurut Direktur Utama Bank Sumsel H Asfan Fikri Sanaf,  krisis yang terjadi saat ini tidak berdampak negatif bagi bank yang dia pimpin. Karena, sejak awal tahun 2008 lalu, Bank Sumsel sudah menjaga Loan To Deposit Ratio (LDR) di posisi 40-50 persen. “ Itu artinya Bank Sumsel dalam kondisi over likuiditas, “ ujarnya saat press conference di kantor Bank Sumsel, kemarin.

Dirut Bank Sumsel Asfan Fikri Sanaf saat memberikan penjelasan likuiditas Bank Sumsel pada sejumlah wartawan.

PENJELASAN: Dirut Bank Sumsel Asfan Fikri Sanaf saat memberikan penjelasan likuiditas Bank Sumsel pada sejumlah wartawan.


Selain itu, Giro wajib minimum (GWM) yang ada di bank Indonesia (BI) sampai saat ini masih terjaga dalam posisi diatas rasio minimal sesuai dengan kententuan BI. “Bahkan likuiditas Bank Sumsel samakin longgar dengan adanya kebijakan baru BI yang menurunkan persentase GWM dari 9.08 persen menjadi 7,5 persen, “ terangnya.
Terkait dengan melemahnya rupiah, Asfan mengaku kondisi tersebut justru berdampak positif bagi Bank SUmsel.“Karena Posisi Devisa Netto (PDN) kita sampai saat ini masih dalam posisi positif, dengan kata lain valuta asing kita dalam posisi yang menguntungkan dengan terjadinya penguatan nilai tukar dollar amerika terhadap rupiah,“ paparnya.
Ditambahkan Asfan krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis yang terjadi tahun 1998 silam. Karena posisi atau pusat krisis tahun ini berada di Amerika, Sementara 10 tahun silam ada di kawasan asia.
”Kalau kita istilahkan episintrum berbeda, dulu Asia, sekarang Amerika. Tetapi karena Amerika merupakan negara besar dibidang ekonomi, maka dampaknya masih tetap ada, terutama bagi negara-negara yang menjalin kerjasama bisnis, ” ujarnya.
Untuk Bank Sumsel sendiri, papar Asfan pengaruhnya tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan bank-bank besar lainnya. Alasannya, pertama karena nasabah bank besarnya banyak yang melakukan aktivitas ekspor impor, sedangkan Bank Sumsel hanya beberapa orang saja.
Kedua, bank besar biasanya juga ‘bermain’ diluar negeri dengan menyalurkan kredit dalam bentuk valas, kalau bank sumsel tidak demikian. Ketiga, produk Bank Sumsel masih tergolong sederhana. Porto folio bank besar juga besar bila dibandingkan bank lokal.
Ditambahkannya, hingga September 2008 kondisi Bank Sumsel masih cukup baik dan cenderung meningkat. Dana pihak ketiga (DPK) per maret 2008 hanya Rp 6,5 T, per September sudah mencapai Rp 7,3 T. Penyaluran kredit juga mengalami peningkatan menjadi Rp 3,3 T. LDR dari 42,84 persen menjadi 45,89 persen, begitupun  laba yang juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari Rp 30 M per maret 2008, menjadi Rp 122 M. Total aset juga mengalami peningkatan, dari Rp 7,4 M menjadi Rp 8,5 T. Mengenai kemungkinan menaikan suku bunga akibat kenaikan BI rate, Asfan mengaku belum bisa memastikan, namun pihaknya kemungkinan besar akan melakukan peninjauan. “ Besok kita akan rapat alco, disana kita akan tinjau, bukan menaikan, “ tegasnya.
Terkait pemberitaan salah satu media yang mengatakan bank sumsel terkena imbas akibat menyimpan dana deposito senilai Rp 10 M di Bank Indover belanda  Asfan menjelaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Karena sejak Januari 2008 lalu, seluruh dana tersebut sudah ditarik atau dicairkan. “ Jadi tidak ada masalah, apalagi dampaknya terhadap kita,” ujarnya.
Dipaparkannya, pada tahun 2007 lalu Bank Sumsel memang menempatkan deposito di Bank Indover, nilainya  1.165.000 USD atau sekitar Rp 10 Milyar. Dana tersebut ditempatkan di bank tersebut secara bertahap mulai dari Mei 2007 hingga September 2007.  Namun setelah jatuh tempo, dana tersebut juga dicairkan sesuai dengan jangka waktu dari 1 hingga 6 bulan.  “ Terakhir 18 Januari 2008, semua dana yang jatuh tempo tersebut tidak diperpanjang kembali, “ tegas Asfan.
Sunatan Massal
Sementara itu, ditempat terpisah Bank Sumsel kembali melaksanakan aksi sosial berupa sunatan massal gratis yang digelar dalam rangka HUT Bank Sumsel ke 51. Kegiatan yang digelar di komp Bank sumsel kenten laut Kab banyuasin tersebut diikuti sekitar 200 peserta.
Selain sunat gratis, peserta juga mendapatkan bingkisan berupa sarung, baju, peci dan sejumlah uang. ” Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk wujud syukur atas keberhasilan yang selama ini dicapai bank sumsel. Kegiatan ini sendiri merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun, selain sunatan beberapa waktu lalu bank sumsel juga melakukan kunjungan ke panti asuhan, ” ujar Asfan Fikri Sanaf yang didampingi direktur umum Mugiono disela-sela kegiatan.
Untuk diketahui Pengadilan Distrik Amsterdam telah membekukan aset dan kewajiban anak perusahaan BI, Indonesische Overzeese Bank NV (Indover), tempat Bank Sumsel menyimpan dana. Pengadilan juga memerintahkan penunjukan dua pihak sebagai administrator.
Bank sentral Belanda (De Nederlandsche Bank/DNB) menyatakan,  Bank Indover dinyatakan perlu mendapatkan regulasi darurat. Sedangkan dua pihak yang ditunjuk adalah Mr T van Hees dan Mr H de Haan. Selain dibekukan aset dan kewajibannya, simpanan senilai 11 juta euro (USD 15 juta) di Indover milik perseorangan akan diberi jaminan.
Berdasarkan dokumen pengadilan, langkah tersebut dilakukan berdasarkan permintaan DNB. “Aset dan kewajiban di Indover akan dibekukan, berdasarkan perintah dari pengadilan,” ujar salah seorang juru bicara di DNB. (ace)

Tabel Kinerja Bank Sumsel Per September 2008

Indikator dan rasio    Des 07                 Maret                  Juni               Sept 08
DPK                         5.835.500           6.594.047      7.045.800          7.343.161
Kredit                      2.587.004          2.706.096        3.018.405         3.369.551
LDR                             44,33%                41,04%             42.84%             45,89%
Laba                           110.216               30.744               49.741          122.079
Devisa Netto                 0,30 %                1.08 %               2,13 %             1,24 %
Tingkat Bunga            3-6,25%              3-6,25%           3-6,25 %             3-8%
Total Aset                  7.443.451          7.470.501         8.134.744       8.582.540

Iklan

4 Tanggapan

  1. KOK MUJI-MUJI Sih. kOQ GITU SIH BERITANYA?

    COBA BACA BERITA di KORAN NASIONAL : BISNIS INDONESIA dan REPUBLIKA. Beritanya Menjawab keingintahuan publik.

    BERITANYA DI BAWAH INI :

    BERITA BISNIS INDONESIA ini dikutip website BPK.GO.ID

    Keuangan
    Selasa, 14/10/2008

    Dana Bank Sumsel tersangkut di Indover

    PALEMBANG: Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumsel diketahui menyimpan dana dalam bentuk deposito senilai Rp10,2 miliar di Bank Indover atau De Indonesische Overzeese Bank NV, anak perusahaan Bank Indonesia yang beroperasi di Amsterdam yang dibekukan Pengadilan Distrik Belanda.
    Dana yang berbentuk deposito di Bank Indover tersebut disimpan sejak 2005, hal ini terungkap dari hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas portofolio PT Bank Sumsel tahun buku 2006 dan 2007 No. 14/ S/ XVIII.PLG/ 01/ 2008 pada Januari 2008.

    Hasil pemeriksaan BPK perwakilan Palembang menyebutkan pada 2005 Bank Sumsel menempatkan deposito di Bank Indover.

    Pada 2005 deposito yang ditempatkan senilai Rp 8,1 miliar lebih. Kemudian per 31 Desember jumlah deposito yang ditempatkan meningkat menjadi Rp9,2 miliar.

    Selama 2007, dilakukan penambahan investasi sebesar Rp1 miliar lebih, sehingga total dana yang ditempatkan Bank Sumsel di Bank Indover yang berkedudukan di Amsterdam tersebut mencapai Rp10,2 miliar.

    Menurut pemeriksaan BPK, penempatan deposito Bank Sumsel berisiko tinggi yang berpotensi merugikan pada masa mendatang, karena Bank Indover telah membukukan rugi selama tiga tahun berturut mulai 2004, 2005 dan 2006 ma-sing-masing sebesar euro2.700, euro10.100 dan euro7.700.

    Terkait dengan masalah tersebut, Asfan Fikri Sanaf, Direktur Utama Bank Sumsel, mengakui pernah menempatkan dananya dalam bentuk valuta asing di Bank Indover sejak 2005, tetapi tidak menyebutkan secara detail berapa besar dana tersebut.

    “Ya memang dulu kami tempatkan dana di Indover, tapi saat ini sudah nihil,” ungkapnya singkat kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

    Jatuh tempo

    Hal yang sama juga disampaikan Rasman Sihombing, Kepala Divisi Tresuri Bank Sumsel, yang menyebutkan pihaknya sejak menjadi bank devisa pada 2004 membuka korespondensi dengan bank di luar negeri, salah satunya di Bank Indover.

    “Deposito itu sudah jatuh tempo pada 2008, dan Bank Sumsel sudah tidak ada hubungan lagi dengan Indover” katanya tanpa menyebutkan tanggal jatuh tempo tersebut.

    Secara terpisah, Arudji Kartawanita, anggota Komisi II DPRD Sumsel menyatakan sejauh ini pihaknya belum mengetahui mengenai berapa besar deposito Bank Sumsel di Indover tersebut.

    “Ya kami pelajari dulu, tentunya setelah ada laporan dari media maupun informasi masyarakat, legislatif bisa saja memanggil pimpinan Bank Sumsel melalui undangan tertulis yang disetujui oleh pim-pinan dewan,”paparnya.

    Namun, dia menjelaskan penyertaan modal di Bank Sumsel tersebut sebagian besar milik pemerintah daerah (pemda), sehingga dengan adanya keterangan secara transparansi setidaknya seluruh pemda di Sumsel yang menyertakan modalnya di Bank Sumsel dapat mengetahui. (k49)

    Bisnis Indonesia

    © Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.

    BERITA REPUBLIKA :

    Koran » Nusantara
    2008-10-14 10:12:00
    DPRD tak Tahu Bank Sumsel Deposito di Bank Indover
    PALEMBANG — Manajemen Bank Sumsel milik Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang tidak transparan dalam masalah penempatan deposito pada Bank Indover di Amsterdam, Belanda, mendapat reaksi dari anggota DPRD setempat.

    Anggota Komisi II DPRD Sumsel, Arudji Kartawinata, menyesalkan sikap manajemen Bank Sumsel yang tidak transparan. ”Selama ini, anggota DPRD tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar adanya penempatan deposito di Bank Indover yang ada di Belanda,” katanya, Senin (13/10).

    Anggota DPRD dari Partai Demokrat itu mengaku tidak mengetahui persis, apakah perlu memberikan laporan sebelum melakukan penempatan deposito tersebut di Bank Indover? ”Karena, Bank Sumsel ini memiliki saham yang merupakan milik pemerintah daerah yang berarti mengelola uang rakyat. Jadi, meskipun kebijakan itu tidak memerlukan persetujuan, minimal DPRD mendapat pemberitahuan,” katanya.

    Menurut Arudji, manajemen Bank Sumsel harus terbuka kepada masyarakat mengenai aktivitas bisnisnya dan mengutamakan prinsip kehati-hatian dalam suatu penempatan investasi. “Kalau sudah ada masalah begini, tidak ada yang mau disalahkan. Tidak tertutup kemungkinan, DPRD memanggil direksi Bank Sumsel,” tambahnya.

    Sementara itu, Direktur Utama Bank Sumsel, Asfan Fikri Sanaf, Senin sore (13/10), menggelar jumpa pers di kantor pusat Bank Sumsel, Jl Kapten A Rivai, Palembang. Asfan mengungkapkan bahwa penempatan deposito Bank Sumsel sebesar Rp 10.271.000.000 tersebut sudah dicairkan atau sudah jatuh tempo pada 18 Januari 2008. ”Sudah tidak ada lagi penempatan deposito Bank Sumsel di Bank Indover sebelum bank tersebut dibekukan,” ujarnya.Direktur Utama Bank Sumsel juga menegaskan bahwa hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas portofolio PT Bank Sumsel tahun buku 2006 dan 2007 No 14/S/XVIII.PLG/01/2008 pada Januari 2008 sudah tidak up to datelagi.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK perwakilan Palembang, terungkap bahwa pada 2005 Bank Sumsel menempatkan deposito di Bank Indover sebesar Rp 8.129.410.000, kemudian per 31 Desember jumlah deposito yang ditempatkan meningkat menjadi Rp 9.210.069.000.Selama 2007, dilakukan penambahan investasi sebesar Rp 1.060.931.000 sehingga total dana yang ditempatkan di Bank Indover yang berkedudukan di Amsterdam tersebut mencapai Rp 10.271.000.000.oed

    (-)
    Index Koran
    Berita sebelumnya :
    2008-10-14 10:10:00
    Gugatan Pilkada Lampung Utara Dikabulkan
    2008-10-14 10:09:00
    Hasan Tiro Istirahat di Pendopo Gubernur

  2. Kalau tidak mengerti benar tentang duduk permasalahannya, jangan berkomentar.. Berita di Media Massa kan belum sepenuhnya benar. Kadang terlalu dibesar-besarkan. Coba di baca sendiri di bpk.go.id, itu berita kapan? bukannya sudah berstatus TS atau telah selesai?

  3. Ya benar Mariana. Kami dari redaksi, sebagai Harian Bisnis akan selalu menampilkan setiap perkembangan dan kemajuan terkini tentang ekonomi dan bisnis baik itu Lokal (Sumsel),nasional, regional bahkan internasional.

  4. @sumita
    ditelaah dulu….jangan ditelen bulet-bulet berita tu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: