Sektor Riil Terkikis

RADAR PALEMBANG, KRISIS – Dalam masa dua bulan ke depan, sektor riil harus berjuang menghadapi kondisi sulit akibat dampak gejolak ekonomi global dan lonjakan nilai tukar dolar. Dalam rentang waktu tersebut, pemerintah diharapkan memberikan dukungan penuh kepada sektor riil agar bisa bertahan.


Menurut Wiet Soegito, Direktur PT Sumber Terang suatu perusahaan yang bergerak dibidang ekspor impor dan perkebunan, sebenarnya fundamental Indonesia kuat.
Tetapi, penurunan ekspor nonmigas dan merosotnya harga komoditas memukul industri dalam negeri termasuk Sumatera Selatan.
Salah satunya adalah sektor perkebunan dimana harga TBS  minyak sawit (CPO) terpangkas 60 persen sehingga diprediksi berdampak pada nilai ekspor merosot.
“Krisis global akan berimbas terhadap seluruh sektor,” ujar Wiet seraya mengatakan dipelosok di Sumsel saat ini harga TBS hanya mencapai Rp 500 rupiah bahkan ada yang hanya Rp 300 rupiah, situasi jelas membuat petani  males untuk memanennya..
Wiet juga memprediksi, industri akan menghadapi kondisi sulit pada satu dua bulan kedepan, karena imbas gejolak ekonomi global. Untungnya, kemungkinan industri banyak yang telah membeli bahan baku sebagai antisipasi kenaikan harga akibat inflasi.
Hal itu juga menguntungkan karena nilai tukar dolar terus fluktuatif.       Penurunan kinerja industri, menurut dia, akan menimbulkan efek domino besar terhadap perekonomian.
Pasalnya, jika pertumbuhan industri turun, tentu akan berdampak pada kehidupan masyarakat  yang pada akhirnya memicu munculnya kesenjangan sosial. ’’Kalau sektor riil sepi dan ekspornya merorot, daya beli makin rendah,’’ terangnya.
Terdongkraknya nilai tukar dolar juga akan makin menyulitkan pengusaha dalam mengimpor barang. Selain harga lebih mahal, posisi kurs rupiah yang kian melemah menyebabkan biaya impor terkerek.
Untuk mengantisipasinya, kata dia, pemerintah harus memberi dukungan penuh kepada sektor riil, terutama mengamankan nilai tukar rupiah agar tidak terus merosot. Dia juga berharap, agar kepercayaan perbankan kepada dunia usaha lebih meningkat.
Pasalnya, dalam kondisi seperti ini, perbankan lebih memilih memegang dananya sendiri meskipun ada cost yang harus ditanggung. “Jika bank tidak mengucurkan dananya, sektor riil bisa kesulitan kredit,” ungkapnya
Selain itu, pemerintah juga diharapkan menurunkan harga BBM bersubsidi untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Hal itu dilakukan karena harga minyak dunia saat ini sudah kurang dari USD 100 per barel sehingga subsidi APBN makin rendah.(sep)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: