Kisah Mahasiswa ”Transfer Palsu” Fakultas Kedokteran Undip

Tiga Tahun Menganggur, Langsung Masuk Semester IV

AHMAD MUSTAIN SALEH, Bangkalan

DUA tahun kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, adalah pengalaman berharga bagi Erly Idawati. Karena itu, saat dia tiba-tiba dikeluarkan oleh pimpinan universitas setelah polisi mengungkapkan bahwa dia masuk secara ilegal (menggunakan bukti transfer palsu), Erly pun terpukul.

Saat Radar Madura (Jawa Pos Group) berkunjung ke rumahnya di Desa Kombangan, Kecamatan Geger, Bangkalan, Madura, Erly tampak duduk termangu di toko onderdil motor milik ayahnya. Namun, begitu mengetahui kedatangan wartawan, setelah mempersilakan duduk, gadis berambut sebahu dan berkacamata itu memilih masuk kamar.

“Kasihan anak kami, Pak. Dia sedang banyak pikiran. Kenapa musibah ini menimpa kami?” kata ibu Erly, Ny Nakib Syahroni.

Erly adalah salah satu dari lima mahasiswa FK Undip yang pekan lalu dikeluarkan dari kampus. Selain Erly, empat yang lain adalah Jamali Maulana, warga Gresik; Ayu Merzafani (Jombang); Husnul Mala (Gresik); dan Afriza (Jember).

Di desanya Erly Idawati dikenal sebagai gadis berparas cantik dan berprestasi di sekolah. Karena itu, saat dia diberitakan masuk FK Undip, Semarang, warga pun maklum. “Sejak kecil dia bercita-cita jadi dokter,” kata H Nakib Syahroni, sang ayah.

Menurut Nakib, sejak duduk di SD Erly selalu giat belajar. Hasilnya, hingga saat SMP di Geger, Erly selalu meraih peringkat di kelas. “Selalu peringkat satu. Paling apes turun ke ranking dua,” ujar Abah, sapaan akrab Nakib, yang punya usaha penjualan onderdil motor itu.

Prestasi itu membuat Erly menerima beasiswa. Bahkan, saat sang anak duduk di SMP, Nakib yang kerap mengambilkan uang beasiswa di Kantor Pos Bangkalan setiap bulan.

Selulus SMP pada 2000, Erly melanjutkan SMA di Darul Ulum, yang berada di lingkungan ponpes terkenal Darul Ulum Jombang. “Itu kan sekolah favorit di Jawa Timur. Erly sangat senang dan semangat belajar. Apalagi belajar di sana kami anggap bisa mempermudah dia jadi dokter,” katanya

Pada 2003 Erly lulus. Cita-citanya menjadi seorang dokter seakan semakin dekat saat Muhammad Ali Yahya, seseorang dari kalangan Ponpes Darul Ulum, menawari keluarga Erly membantu meloloskan Erly ke fakultas kedokteran.

“Ali Yahya kan keluarga pondok. Jadi, kami sebagai santrinya tentu saja percaya dan menyerahkan segalanya kepadanya,” kata Abah.

Sesuai petunjuk Ali Yahya, awalnya Erly berangkat ke Bandung. Alasannya, pria yang di kalangan ponpes akrab dipanggil Gus Ali itu menyatakan Erly akan diterima di FK Universitas Padjadjaran (Unpad). Untuk itu, Nakib pun membayar Rp 125 juta.

Namun, Erly terkejut ketika melihat pengumuman UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Namanya tidak ada pada daftar mahasiswa baru FK Unpad. Karena telanjur di Bandung, gadis itu tak langsung pulang.

“Erly sempat setengah tahun tinggal di Bandung. Dia kursus keterampilan sambil menunggu janji Ali Yahya,” kata Nakib.

Sudah membayar mahal, Erly saat itu tidak bisa kuliah. Kepastian dia bisa kuliah kedokteran baru terlaksana tiga tahun kemudian. Pada 2006, Ali Yahya membawa Erly ke Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Awalnya, keluarga merasa ada kejanggalan. Sebab, Erly langsung menempuh studi di semester IV.

Mereka tidak sadar bahwa sang anak masuk Undip dengan membawa berkas transfer palsu dari Unpad (Seakan-akan Erly mahasiswa FK Unpad yang mengajukan pindah ke Undip. Semua data -termasuk transkip nilai- yang mengatur Ali Yahya).

“Namun, saat itu Ali Yahya bilang kami tidak usah ikut campur. Semuanya apa kata dia,” ujar Nakib.

Nakib mengaku kaget mendengar kedok Ali Yahya terbongkar dan kemudian ditahan Polda Jateng. Bukan hanya itu, anaknya kemudian “dipulangkan” oleh kampusnya setelah kejadian itu. Selain rugi uang, Erly rugi waktu mengikuti kuliah yang ternyata sia-sia. Belum lagi tekanan batin.

“Kasihan Erly. Kondisi kesehatannya terus menurun. Kami akan menuntut Ali Yahya. Kami sangat dirugikan. Kami adalah korban kejahatannya,” kata Nakib.

Dihubungi secara terpisah, keluarga M. Yusuf, yang putrinya, Ayu Merzafani, 19, yang juga jadi korban, tidak mau berkomentar banyak terkait terbongkarnya kasus tersebut. Ketika Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) menghampiri kediamannya di Jalan Brawijaya, Jombang, Jatim, seorang anggota keluarganya mengatakan bahwa Yusuf dan Ayu berada di Semarang.

”Tunggu besok saja, mungkin Pak Yusuf pulang,” ungkap Ny Yusuf.

Tak seperti Erly Idawati dan Ayu Merzafani, Jamali Maulana, 20, “mahasiswa” FK Undip korban Ali Yahya yang lain, bernasib lebih buruk. Ketika teman-temannya hanya dikeluarkan dari Undip, pemuda kelahiran Gresik, Jatim, itu ikut ditahan Polda Jateng karena disangka berperan sebagai penghubung para korban.

Jamali yang sempat dikabarkan warga negara Malaysia itu lahir di Desa Tambak, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Kecamatan Tambak, bagian dari Pulau Bawean, berada sekitar 80 mil laut dari pusat Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Gresik. Di pulau ini terdapat dua kecamatan, yakni Tambak dan Sangkapura.

Jamali dibawa sang ayah, Abdul Manaf, 40, merantau ke Malaysia. Di negeri jiran tersebut, Manaf bekerja di sebuah kontraktor. Manaf kini dikabarkan menetap di Sungai Buloh, Selangor, Malaysia. Uang hasil mengais rezeki di negeri orang itu kemudian digunakan untuk menyekolahkan Jamali, sulung dari tiga bersaudara.

“Siapa orang tua yang tidak shock saat mengetahui anaknya ditipu orang,” kata Muslikh, adik ipar Abdul Manaf, ketika ditemui Jawa Pos di rumahnya, kompleks Perumahan Sidorukun Indah, Kota Gresik, tadi malam.

Menurut dia, sampai sekarang kakaknya (ibu Jamali) terus menangis mengetahui anaknya masuk bui. Beberapa hari lalu Muslikh mengaku membesuk Jamali di Mapolda Jateng. Saat itu sang keponakan terlihat terpukul dan marah-marah. Pasalnya, Jamali yang mengaku hanya korban tak menyangka dituding sebagai perantara dalam pemalsuan transkip nilai bagi korban lain.

“Keponakan saya itu korban penipuan Ali Yahya,” kata Muslikh yang mengaku prihatin kondisi kejiwaan Jamali jadi labil akibat peristiwa itu.

Muslikh memang layak prihatin. Selain satu-satunya yang ikut masuk bui, Jamali juga korban yang rugi uang paling banyak. Untuk masuk ke FK Undip ini, Jamali harus menyetorkan Rp 500 juta. (yad/doy/el/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: