Sektor Ritel dan Pangan Aman

RADAR PALEMBANG, AMAN – Sektor ritel dan pangan tidak terkena  dampak krisis global. Keduanya hingga kini masih aman. Penyebabnya, selain  transaksi cash and carry yang mendukung cash flow  sektor tersebut, juga karena keduanya terbilang minim barang impor.


Menurut  Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Sumsel, Hasanuri, resiko bagi sektor ritel lebih rentan dialami oleh sebagian kecil saja. Jika pun ada yang terkena,  tentunya yang biasa mengimpor produk secara besar-besaran.
’’Tapi di antara produk yang dijual ritel anggota kami, hanya sebagian kecil produk impor. Justru yang terbesar adalah produk dalam negeri. Maka dari itu, sejauh ini tidak ada keluhan anggota kami menyoal dampak krisis finansial global yang terjadi sekarang ini,”ujar Hasanuri, kemarin.
Terkait produk impor, Hasanuri berharap agar pemerintah berperan aktif merubah budaya sebagian masyarakat. ’’Terutama kalangan kelas atas yang sering menggunakan merek-merek luar negeri,’’ ungkapnya.
Jika itu dilakukan, maka secara tidak langsung juga akan berimbas positif pada produk dalam negeri. Dia mengatakan pemerintah juga bisa menyiasati hal ini melalui regulasi pajak khususnya untuk produk impor. Sebab, pajak untuk barang impor saat ini cukup tinggi, imbasnya membuat harga jualnya cukup tinggi. ’’Karena harganya di dalam negeri lebih mahal, masyarakat lebih suka berbelanja di Singapura,’’ jelasnya.
Dengan demikian, dia mengatakan bahwa arus belanja masyarakat kalangan atas tidak bersinggungan dengan produk dalam negeri. Sehingga, di sini kans terjualnya produk dalam negeri oleh masyarakat kalangan atas sangat minim.
Maka dari itu, Hasanuri mengharapkan pemerintah  bisa menurunkan pajak untuk barang impor. Asumsinya, jika harga produk impor di pasaran dalam negeri turun, maka sedikit banyak bisa merubah arus belanja kalangan atas. ’’Diharapkan kalangan atas akan berbelanja di negeri sendiri,’’ ungkapnya.
Sementara itu,  mengacu kepada kondisi krisis ekonomi yang terjadi 10 tahun silam, kelompok usaha yang mampu bertahan adalah sektor UMKM. Namun, kondisi yang terjadi tahun ini bukanlah pengaruh akibat kondisi dalam negeri, melainkan imbas dari situasi global. Dan krisis yang dialami kali ini bagi pengusaha lokal justru lebih berat.
”Bagi bisnis UMKM seperti kami, kondisi seperti ini ada plus dan minusnya. Dampak krisis ini meluas, suku bunga perbankan tinggi. Tetapi apabila kelangsungan pendapatan masyarakat di daerah  bisa terjaga, bisnis ini tidak akan terpengaruh,” ujar Pengusaha komoditi pangan Sumsel Ken Krismadi, kemarin.
Sejauh ini kemampuan masyarakat masih stabil, dalam arti daya beli masyarakat belum mengalami penurunan. Jika hal ini bisa terjaga, kata dia, walaupun bunga kredit melonjak jadi 20 persen tetap tidak akan timbulkan masalah. Kelangsungan bisnis masih tetap terjadi.
Dalam tempo satu dua bulan ke depan bisnis pangan masih dapat berlangsung normal. Tetapi apabila krisis ini berkepanjangan tentunya akan mempengaruhi daya beli masyarakat. ”Saat krisis tahun 1997 lalu kondisi daya beli masyarakat masih sangat baik, tetapi sekarang secara berangsur-angsur telah mengalami penurunan,” tandas dia.
Apalagi sambungnya, krisis ini telah mendera sektor perkebunan. Harga komoditas sawit maupun karet anjlok drastis. Tentunya ini akan menurunkan kemampuan beli petani atas barang-barang pangan. Namun, bagi konsumen akhir hal ini justru menguntungkan. Harga minyak goreng yang tadinya mencapai Rp 15 ribu sekarang sudah turun menjadi Rp 6 ribu perkilogram.
”Terpenting dilakukan sekarang bagaimana sikap pemerintah untuk mengantisipasi krisis yang akan dialami kelompok pangan ke depan. Supaya produktivitas pertanian maupun perkebunan bisa lebih ditingkatkan,” jelasnya.
Jika sektor perkebunan mengalami penurunan harga, lain halnya dengan komoditi pangan harganya cenderung lebih stabil. Beras sekelas merek Selancar di tingkat distributor diperdagangkan di level Rp 5.500 sedangkan di tingkat eceran harganya Rp 6 ribu. ”Hanya yang saya lihat belum mengalami penurunan harga tepung terigu. Harga gandum di Australia sudah turun tetapi harga gandum ditingkat lokal masih tetap tinggi,” tandas Ken.(ade/sep)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: