Krisis Merembet ke Sendi Perekonomian Rakyat

Sekarang Sayur, Besok-besok Buah dan Elektronik

MEROSOTNYA harga karet dan sawit beberapa minggu terakhir, mulai melemahkan sendi-sendi perekonomian rakyat. Setelah para petani mengaku kelimpungan memenuhi kebutuhan lantaran harga sawit dan karet hilang di pasaran, giliran penjual sayur, gigit jari. Mereka mengaku, sejak dua minggu terakhir, pendapatan dari hasil jual sayur tergerus hingga 80 persen.

Sikin – BANYUASIN

ANJLOKNYA pendapatan para pedagang sayur lantaran, konsumen mulai meninggalkan sayur mayor.  Bahkan, akibat tidak laku dijual, banyak sayur milik pedagang di Pasar Pangkalai Balai dibiarkan membusuk begitu saja dan menjadi santapan lalat dan ulat.
Uti Utami (32), penjual sayur di Pasar Pangkalan Balai, sejak dua minggu yang lalu, pendapatannya turun drastic. Jika sebelumnya, dalam sehari mampu memperoleh penghasilan kotor sebesar Rp 1 juta. Sejak anjloknya harga karet ini, dia hanya bisa memperoleh penghasilan sebesar Rp 150 ribu..
“Sekarang kerugian yang saya alami sangat besar, dalam sehari saya bisa rugi sebesar Rp 500 ribu. Bayangkan, modal saya membeli sayur mayur dan tahu tempe saja sebesar Rp 700 ribu per harinya, sejak anjloknya harga sawit dan karet, paling-paling dari jumlah modal tersebut hanya terjual sebesar Rp 150 ribu. Berapa kali lipat kerugian saya,” ungkapnya memelas.
Masih menurut Uti, jika kondisi tersebut terus dibiarkan dan berlajut dalam jangka waktu yang cukup lama, bisa dipastikan dirinya dan juga ratusan rekan senasibnya terancam gulung tikar. Apalagi, pasar belum ada itikad untuk menurunkan harga menyesuaikan dengan kemampuan masyarakat sekitar pascaturunnya harga karet dan sawit.
Hal senada juga dialami oleh, Parmi (23) pedagang sayur lainnya. Menurutnya sejak 2 minggu terakhir ini, pembeli berkurang hingga 70 persen lebih. Menurutnya, pada hari kalangan yang jatuh pada Rabu, Kamis dan Senin, kios miliknya selalu ramai dikunjungi pembeli, tapi kini sudah tidak lagi. Pendapatanya pun turun drastis. ”Semua ini bermula dari turunnya harga karet dan sawit beberapa waktu yang lalu. Masyarakat Pangkalan Balai dan sekitarnya ‘kan rata-rata penghasilannya dari karet dan sawit, kalau keduanya anjlok harganya, pasar pasti sepi,” tegas Parmi.
Mirisnya lagi, para pedagang sayur terpaksa harus membiarkan sayuran yang tidak laku tersebut membusuk. Apalagi, ketahanan sayur hanya dua hari, jika lebih dari dua hari kondisinya akan menurun dan membusuk. Dengan penurunan konsumen hingga di atas 70 persen dari sebelumnya, maka potensi sayur terbuang akibat turunnya daya beli masyarakat pun sebanding.
Diperkirakan, imbas penurunan harga karet dan sawit beberapa waktu yang lalu tidak hanya berimbas pada pasar sayuran dan sembako, tapi juga pada bisnis masyarakat yang lainnya seperti barang elektronik, emas, buah, dan sebagainya. (qen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: