L/C Bank Bakal Ketat 3 Bulan

RADAR PALEMBANG, KREDIT-Turbulensi finansial global membuat industri perbankan diprediksi akan lebih berhati-hati dalam hal penjaminan letter of credit (L/C) kepada eksportir nasional. Selain itu, bank juga bakal wait and see dalam memberikan kredit ekspor.


Kalangan pengusaha sudah merasakan sikap hati-hati perbankan itu. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengatakan, ada kekhawatiran bank-bank sehingga mereka memperketat kebijakannya terkait jaminan L/C. “Ini hanya masalah confidence saja menyikapi turbulensi finansial global,” kata Erwin kepada koran ini di Jakarta kemarin (21/10).
Saat ini, pelaku usaha diharuskan membayar tunai jaminan L/C (100 persen). Hal itu dikhawatirkan mengganggu kinerja para eksportir. Padahal, sebelumnya, pengusaha hanya membayar 30 persen dari nilai L/C.
Erwin menuturkan, pengetatan jaminan L/C itu berpotensi menurunkan produktivitas para eksportir hingga 70-80 persen. “Kan biasanya dana itu (yang dibayarkan tunai untuk L/C) dipakai untuk kegiatan produksi kita (pengusaha, Red). Ya akhirnya pasti produktivitas bisa berkurang,” jelas Erwin.
CEO Bosowa Corporation itu menuturkan, industri perbankan terlalu cemas bila nantinya akan ada default (gagal bayar) atas L/C tersebut. “Khawatir ada default. Tapi, seharusnya kita lihat country risk-nya, toh tidak semua negara maju bermasalah karena krisis likuiditas,” jelas Erwin.
Bank, kata dia, mesti cermat dalam memilah mana saja yang punya potensi default dan mana pula yang aman. Sehingga, pengetatan kebijakan jaminan L/C tidak bisa digeneralisasi.
Erwin memprediksi, pengetatan jaminan L/C ini hanya akan bersifat temporer. “Hanya terjadi dalam 2-3 bulan ke depan. Kita harap akan sedikit longgar setelah itu,” ujarnya.
Sebab, dalam jangka waktu itu, akan terlihat seberapa jauh potensi default akan terjadi. “Nasabah yg dikhawatirkan macet, ternyata tidak terjadi. Itu membuat confidence perbankan naik. Sekali lagi, ini hanya masalah confidence saja,” tutur Erwin.
Dia menambahkan, kendala lain adalah perbankan nasional tidak punya banyak koresponden di negara yang jadi mitra pengusaha. “Itu membuat L/C kita tidak laku,” jelasnya.
Secara terpisah, Ketua Umum Kadin M. S. Hidayat mengatakan, kalangan industri meminta agar ada pelonggaran jaminan L/C. Dia menuturkan, perbankan nasional adalah jangkar penyelamatan sektor riil dari badai finansial global. Sebab, sektor finansial lain sudah guncang, terutama di pasar modal. Seretnya likuiditas, kata dia, membuat para pengusaha kelimpungan. Secara makro, hal itu dirasakan oleh para eksportir terkait kebijakan L/C.
Kadin, sambung dia, sudah meminta agar ada kelonggaran kebijakan jaminan L/C. “Industri perbankan harus mendukung penuh hal itu, karena kita sudah komitmen berusaha keras untuk melakukan ekspor di tengah krisis finansial di banyak negara,” jelas Hidayat. (eri/sof)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: