Melihat Pabrik Gas Methan di TPA I Sukawinatan (3)


Pemulung Berharap Lapangan Kerja Baru

BAGAIMANA harapan para pemulung yang mayoritas warga sekitar TPA I Sukawinatan dengan kehadiran pabrik PT Gikoko Kogyo Indonesia? Jadi ajang rezeki baru atau malah sebaliknya? Berikut liputannya.

M  Asif Ardiansyah – PALEMBANG

PANAS terik dan udara yang pengap, akibat bau sampah yang begitu menyengat, tak menghalangi ratusan pemulung yang ada di TPA  I Sukawinatan untuk mengais rezeki, kemarin siang. Mereka sebagian ada yang terlihat asyik memisahkan satu persatu sampah  yang dinilai bisa dijual kembali. Tanpa memikirkan lalat-lalat sampah yang mengelilingi tubuh dan kepala mereka.
Namun ada juga yang membawa keranjang yang berisi sampah yang sudah mereka pisahkan untuk  kemudian dijual kepada agen.  Begitulah gambaran singkat  para pemulung yang mayoritasnya adalah warga sekitar TPA  dalam mengais rezeki.
”Ya memang begitulah Dik, kegiatan rutin kami setiap hari. Pagi, siang dan sore  kami kesini untuk mencari plastik, besi ataupun kardus untuk kemudian kami jual kembali,” ungkap  Ratna, pemulung yang dibincangi RADAR PALEMBANG, kemarin.
Ibu empat orang anak juga mengatakan, dari memulung sampah ini per harinya ia bisa mendapatkan uang berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.  ”Jumlah ini memang sedikit namun saya mencarinya berdua bersama suami. Jadi cukuplah untuk biaya hidup dan sekolah anak,” ucap  Ratna  sembari membersihkan keringat yang terus mengalir di wajahnya akibat teriknya hari.
Lebih jauh Ratna juga menceritakan mengenai penghasilan mereka  yang terus terus menurun akibat merosotnya harga plastik, besi, dan kardus di agen tempat mereka menjual. ”Dulu harga besi sekilonya Rp 5.000, plastik Rp 1.000, dan kardus Rp 700. Tapi kini sudah merosot jauh besi hanya seharga Rp 2.000, plastik Rp 500, dan  kardus seharga Rp 300,” ujar Ratna seraya mengatakan penyebab lainnya adalah karena semakin banyaknya jumlah pemulung.
“Dua tahun lalu jumlah pemulung di sini hanya puluhan orang, tapi kini jumlah sudah mencapai ratusan,” lirihnya.
Nah, di tengah kondisi tersebut, Ratna berharap dengan hadirnya pabrik gas metan ini bisa membuka lapangan kerja atau paling tidak mendongkrak pendapatan mereka. ”Dengan hadirnya pabrik ini tentu suplai sampah ke TPA I Sukawinatan  akan semakin meningkat dan itu diharapkan bisa meningkatkan pendapatan kami,” harap Ratna.
Hal senada juga diungkapkan Erlina dan Cecep, pemulung lain yang juga mengaku merosot pendapatannya akibat terus turunnya harga besi, plastik dan kardus plus semakin ramainya jumlah pemulung.
”Dengan keadaan ini kami berharap hadirnya pabrik metan ini bisa mendongkrak pendapatan kami sekaligus membuka lapangana kerja,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui bahwa proyek Clean Development Mechanisme (SDM) LFG Flaring di TPA I Sukawinatan  oleh PT Gikoko Kogyo Indonesia kerja bareng dengan pemerintah kota Palembang guna memproduksi gas metan yang merupakan solusi untuk mengatasi emisi rumah kaca. Selain itu, kegiatan ini juga  merupakan proyek besar yang telah ditandatangai oleh Asia Pasific Carbon Fund  oleh 7 negara yaitu  Spanyol, Swedia, Swiss, Portugis, Belgia, Luxemburg dan  Finlandia. Artinya ke depan prospek gas metan ini semakin cerah. (*/tamat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: