Omzet BII Finance Turun Drastis

Sejak Satu Bulan Terakhir

RADAR PALEMBANG, TURUN-Krisis yang tengah dialami situasi ekonomi tanah air, ternyata membawa dampak besar bagi bisnis BII Finance. Meskipun kondisi fundamental perusahaan sangat kuat, satu jaringan dengan Bank BII, namun tak urung sebulan terakhir omzet usaha anjlok hingga 60 persen.
Biasanya dalam tempo satu bulan perusahaan pembiayaan yang baru saja hadir satu tahun di Palembang itu, mampu mengumpulkan omzet Rp 5-6 miliar tetapi selama Oktober ini turun hingga 60 persen.

’’Tadinya sebelum lebaran omzet kami masih bertumbuh dengan sangat baik, tetapi seiring dengan mulai tingginya suku bunga, penjualan berangsur-angsur merosot,” ucap Branch Manager BII Finance Center Palembang, Indrawan, kemarin.
Utamanya kemerosotan omzet itu terjadi akibat kendaraan yang batal dibeli nasabah, setelah melihat suku bunga yang mengalami penyesuaian dari saat proses pemesanan hingga kendaraan itu tiba di showroom. Misalnya untuk merek Avanza, enam bulan lalu rate untuk kendaraan ini masih dikisaran 5 persen, namun kini angkanya naik jadi 7 persen.
”Bulan kemarin suku bunga masih sangat kompetitif tetapi sebulan terakhir mencuat drastis. Ini membuat banyak nasabah yang meng-cancel pembelian, dari total yang dipesan lebih dari 60 unit, yang batal sekitar 10 unit. Jadi mungkin angkanya 20 persen yang batal itu.”
Perusahaan juga, akunya sulit untuk menurunkan rate, mengingat biaya cost of fund perusahaan kini juga sangat tinggi. ”Namun sejauh ini tingkat suku bunga kami masih lebih kompetitif dibandingkan perusahaan lainnya,” tegas Indrawan.
Meskipun banyak menerima tekanan namun secara keuangan perusahaan ini tidak akan mengalami kesulitan karena di support oleh Bank BII. Untuk itulah, proses penjualan masih tetap dapat dilaksanakan. Hanya saja dengan anjloknya harga komoditas perkebunan seperti sekarang, membuat BII Finance lebih selektif dalam memilih nasabah.
Resiko yang bakal dialami perusahaan akan makin berat sehingga berpotensi menaikan angka kemacetan yang kini angkanya tidak sampai satu persen. ”Nasabah kami mayoritas wiraswata sedangkan nasabah diluar daerah yang bergelut dibisnis perkebunan, hanya lima persen. Tetapi tetap saja resiko angka kemacetan mengancam.”
Selain selektif memilih nasabah, perusahaan pembiayaan itu juga tegas dalam hal pembayaran uang muka (DP). Aturan DP 20 persen harus dipenuhi nasabah terlebih dulu sebelum membawa pulang mobil.(ade)

Satu Tanggapan

  1. sabar aja pak indrawan.GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: