Pengusaha Tuntut Proteksi

RADAR PALEMBANG, DISINSENTIF – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta agar pemerintah memberlakukan proteksi terhadap sektor riil untuk menghadapi potensi pengalihan produk impor dari AS. Namun, tindakan tersebut tetap harus sesuai aturan WTO (World Trade Organization).


“Proteksi itu strategi yang dipersiapkan Kadin bersama pemerintah saat ini untuk memperkuat produk domestik,” ujar Ketua Umum Kadin MS Hidayat di Jakarta, kemarin (21/10).
Dia mengaku sudah mewanti-wanti pemerintah untuk mengupayakan hal itu. Sebab, sejak terjadinya krisis keuangan di AS, muncul kekhawatiran banyak negara yang akan mengalihkan pasarnya ke Indonesia.
Jika itu terjadi, diprediksi banyak produk Indonesia yang bisa kalah bersaing. Sebab, selain harga produk impor yang masuk secara legal (resmi) lebih murah 30–40 persen, potensi masuknya produk impor secara ilegal masih sangat besar.
“Karena itu, kami minta apakah tidak sebaiknya impor barang-barang konsumtif dibatasi saja. Jadi, kami minta diberlakukan disinsentif terhadap produk-produk impor itu. Mungkin bea masuknya yang dinaikkan atau kuota. Tapi, itu harus sesuai aturan WTO,” jelasnya.
Hidayat mengapresiasi langkah pemerintah untuk memperkuat sistem perbankan nasional dalam menghadapi krisis finansial global. Tapi, penguatan sistem perbankan tersebut jangan lantas menimbulkan pengetatan terhadap sektor riil. “Intinya, bank memang harus hati-hati. Tapi, jangan lantas karena hati-hati untuk antisipasi krisis itu, sektor riil jadi semakin kehabisan napas,” tegas.
Dia menambahkan, pihaknya sudah meminta ada tax amnesty agar dana-dana warga negara Indonesia yang diparkir di luar negeri bisa kembali masuk ke tanah air. “Itu akan membuat likuiditas di dalam negeri membaik dan bank pun kembali berani gencar menyalurkan kredit,” tuturnya.
Anggota Tim Penasihat Ekonomi Kadin Mudrajad Kuncoro mengungkapkan, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB (product domestic bruto) pada 2008 bisa kembali merosot jika pemerintah tidak segera membuat terobosan. Pihaknya khawatir hal itu memicu deindustrialisasi.
“Sebenarnya mulai 2000 industri kita ini seolah mandek (berhenti) karena sumbangan industri manufaktur terhadap PDB cenderung flat (mendatar) di kisaran 28 persen. Padahal, potensinya bisa 35 persen,” ungkapnya.
Menurut dia, sudah seharusnya pemerintah lebih memperhatikan sektor riil dibanding pasar saham. Sebab, dari kejadian beberapa hari lalu terlihat bahwa pergerakan saham dan kurs sangat terintegrasi dengan market (pasar).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menyatakan, realisasi pertumbuhan industri yang selalu jauh di bawah target pascakrisis 1997 membuktikan bahwa pemerintah belum mampu secara gemilang mengurai lilitan benang masalah eksternal dan internal, sehingga kinerja sektor manufaktur selalu jauh dari ekspektasi ideal. “Industri nasional selalu dihadapkan pada sejumlah problem klasik yang hingga kini tidak bisa dituntaskan dengan baik,” ujarnya.
Saat ini, menurut dia, sektor manufaktur tumbuh dan berkembang secara alamiah, bukan karena upaya pemerintah. Beberapa faktor yang menyebabkan sektor manufaktur gagal mencapai target pertumbuhan ideal, antara lain, praktik penyelundupan yang dibiarkan tumbuh subur, pungli kian merajalela, infrastruktur tak terurus, tak ada kepastian hukum, pasokan energi yang selalu defisit, serta ketatnya likuiditas perbankan. “Dengan semua kondisi itu, PDB sektor industri pada 2008 mungkin akan lebih buruk,” ucapnya.
Akhir 2007, Kadin mengategorikan enam kelompok industri yang mengalami sunset (penurunan). Yakni, sektor industri barang galian nonlogam (keramik), industri barang lainnya (aneka), serta industri kertas dan barang cetakan. Juga, industri barang kayu dan hasil hutan; industri makanan, minuman, dan tembakau; serta kelompok industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki. “Kondisi itu akan diperparah oleh tidak adanya investasi tambahan,” tegasnya. (wir/eri/iw/kim)

Persentase Produk Domestik Bruto (PDB)

Lapangan usaha             2000         2005         2006         2007
Pertanian                  15,6         13,4         13,6         14,6
Pertambangan dan penggalian     12,0         10,4         10,5         9,4
Manufaktur                  27,8         28,1         28,0         29,0
Lainnya *                  44,6         48,1         47,9         47,0
PDB                     100        100        100        100

Ket * : Terdiri atas sektor listrik, gas dan air minum, konstruksi, perdagangan, pengangkutan dan komunikasi, bank dan lembaga keuangan, sewa rumah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: