Persaingan Bisnis Komputer Tak sehat

RADAR PALEMBANG,KOMPUTER-Fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah yang kini belum stabil, menggoyangkan bisnis penjualan komputer. Tak hanya itu persaingan pengusaha besar dengan pengusaha kecil kini makin ketat dan semakin tidak sehat.


Persaingan bisnis itu mencakup masih banyaknya barang illegal yang dijual pengusaha kelas menengah ke bawah, mulai dari system impornya atau dikenal dengan pararel impor (PI) hingga pola-pola lainnya yang merugikan. Seperti barang bekas yang dipabrikasi lagi dijual dengan harga murah, bahkan system subsidi merek dari pabrik yang diberikan kepada pengusaha besar.
“Hal-hal itulah masih merusak pasar penjualan komputer sekarang. Karena mereka bisa menjual dengan harga murah dari yang lain. Padahal, harga komputer seperti note book dijual seharga Rp 5-6 juta. Artinya, paling kita untung hanya Rp 100 ribu, tipis sekali. Tapi, bila si penjual biasanya dari pengusaha besar ini mendapatkan diskon merek dari perusahaan produksi, harga bisa lebih murah Rp 1-2 juta. Pola ini yang merusak sekarang,” jelas Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia Cicin Wijaya yang juga owner PT Intikom.
Sejauh ini tata niaga bisnis komputer tak ada aturan jelas, karena memang sudah menganut mekanisme pasar bebas. Pihaknya tetap berharap ada komitmen besar dari pemilik merek atau perusahaan memproduksinya, untuk tidak menjalankan praktek-praktik seperti itu.
“Jual komputer ini sangat sedikit margin keuantunganya. Bukan hanya persaingan bisnis, kalau dolar tidak stabil seperti sekarang, bisnis kita pun goyang dan sulit mencari market. Karena harga komputer selalu dibeli dengan harga dolar, sementara menjualnya dengan nilai rupiah. Nah kan bahaya, kalau tidak hati-hati,” ungkapnya
Fluktuasi kenaikan harga komputer, dengan adanya krisis AS ini, mencapai 7-10 persen. Harga ini pun masih tak stabil. Bisa saja bakal naik lagi, bila dolar masih terus berfluktuatif.
“Kami sangat rugi, kalau dolar tak stabil. Karena hari ini kita ambil dengan harga dolar tinggi, tak tahunya besok dolar turun. Lha, siapa yang mau beli barang kita, kalau tetap kita jual mahal,”ungkap Cicin.
Situasi ini sudah terjadi sejak dua bulan terakhir. “Hanya dengan dolar stabil lah, bisnis komputer ini bisa berjaya. Meskipun harganya naik, kalau stabil, konsumen akan respon. Tapi kalau naik turun, konsumen cenderung wait and see,”ungkapnya.
Untuk posisi penjualan rata-rata sekarang ini di Sumsel baru mencapai 2.000 unit per bulan, dari sebelumnya bisa mencapai diatas 2.000 unit. Artinya masyarakat cenderung menunggu harga stabil untuk bisa kembali bertarnsaksi.
Sedangkan jenis, masih tetap didominasi oleh jenis note book. Sementara jenis komputer biasa, cengerung stagnan. Bahkan, prediksi kedepan, note book akan terus menjadi primadona seiring dengan pola efisiensi digunakan masyarakat modern.(ayu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: