Erry: Kita Tak Diatur Bakrie

BEI Bantah Beri Perlakuan Khusus

RADAR PALEMBANG, BEI-Otoritas bursa terus berusaha menepis anggapan pasar bahwa pihaknya tidak tegas dalam kasus suspensi Grup Bakrie. ”Kita tidak diatur oleh Keluarga Bakrie,” tegas Dirut BEI Erry Firmansyah seusai RUPS BEI di Jakarta kemarin (28/10).


Dia mengatakan, transaksi yang sedang dilakukan PT Bakrie & Brothers Tbk sangat besar. ”Kalau semua belum jelas, dan suspensi dicabut, industri (pasar modal) ini akan bermasalah. Banyak yang akan kolaps, broker-broker kesulitan karena harganya tidak sesuai,” ujarnya.
Saat ini, otoritas bursa terus berkomunikasi dengan Grup Bakrie. ”Kita tunggu selesainya transaksi mereka, mungkin pekan ini,” katanya.
Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito menambahkan, otoritas bursa pada awal pengajuan suspensi oleh emiten-emiten Grup Bakrie sudah memberikan deadline.  Namun, ketika transaksi belum selesai, tentu tak bisa dipaksakan.
“Jual aset miliaran USD kan tidak mudah. Apalagi, dalam kondisi market seperti saat ini, tentu agak lama,” ujar Eddy.
Dia membantah otoritas bursa terlalu lemah dan tidak tegas dalam masalah ini. “Siapa bilang. Setiap ketemu manajemen mereka, kita selalu tekan, kita marah-marah,” ujarnya.
Di samping soal belum rampungnya transaksi, belum dibukanya suspensi Grup Bakrie juga tak lepas dari upaya menahan kejatuhan pasar semakin dalam. Ini tidak terlepas dari pengaruh saham-saham Grup Bakrie di lantai bursa.
Jika suspensi BUMI dicabut, dan kemudian harganya tumbang, besar kemungkinan saham-saham emiten Grup Bakrie lainnya akan semakin terpuruk. Alhasil, bursa akan ikut tertekan. “Karena itu, kita nggak bisa maksa suspensi harus dibuka. Market risk-nya itu ada di kita,” tuturnya.
Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengatakan, Grup Bakrie harus segera memberikan informasi yang jelas. Pelaku pasar sudah lelah disuguhi “permainan” grup tersebut. Grup Bakrie membantah bahwa mereka sedang terancam gagal bayar atau tidak akan melakukan top up alias menambah nilai jaminan berupa saham yang mereka gadaikan untuk memperoleh utang.
Investor, kata dia, bertanya-tanya untuk apa BNBR melego saham di sejumlah anak usahanya. Padahal, utang mereka belum jatuh tempo. Utang yang jatuh tempo pada 2008, sebagaimana telah diberitakan koran ini, jumlahnya sangat minim dan sebagian telah dilunasi. “Lantas, penjualan aset tersebut untuk membayar utang atau untuk top up transaksi repo?” ujarnya.
Indeks bakal makin anjlok jika suspensi saham Grup Bakrie, terutama Bumi, dibuka. Apalagi, jika perseroan tidak melakukan top up karena jelas-jelas nilai kolateral mereka (saham-saham yang dijaminkan) telah tergerus. “Akan ada forced sell dari pemegang repo,” ujarnya
Dia mengatakan, kepercayaan investor terhadap Grup Bakrie mulai tergerus. ”Investor sudah mulai tidak percaya, sudah terlalu sering merasa ditipu oleh maneuver Grup Bakrie,” kata dia.
Berbagai rumor yang beredar di pasar seperti gagal bayar repo saham selalu di bantah oleh manajemen. Dalam laporan keuangan semester I-2008 PT Bakrie & Brothers Tbk disebutkan, ada gadai saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 3,739 miliar lembar saham, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebanyak 4,46 miliar lembar, dan saham ELTY sebesar 3,796 miliar lembar. Aksi penggadaian 19,27 persen saham BUMI, 30,97 persen saham ENRG, dan 19,06 persen saham ELTY tersebut dilakukan untuk memperoleh pinjaman jangka pendek dari Odickson Finance sebesar USD 1,09 miliar; ICICI dan JP Morgan Chase senilai USD 300 juta.
Besarnya pinjaman, terutama dari Odickson sebesar USD 1,09 miliar akan jatuh tempo pada April. Kekhawatiran adanya gagal sangat wajar mengingat besarnya pinjaman, dan dana yang diperoleh BNBR terbilang masih minim. Saat menjual 15,3 persen saham ELTY dan 5,6 persen saham UNSP, BNBR hanya meraup dana Rp 516 miliar.
Selain itu, investor masih menunggu kejelasan penjualan saham emiten-emiten di bawah Grup Bakrie yang belum dibuka. Sejumlah investor yang disebut sedang bernegosiasi dengan perseroan adalah Credit Lyonnais, Avenue Asia dan Konsorsium BUMN (PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT Timah Tbk) menggandeng Grup Djarum, Ancora Capital, dan Northstar Pacific. (eri/fan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: