Jangan Takut Masuk ke Obligasi Negara

Rerata tingkat yield (imbal hasil) obligasi negara terus mendaki. Harganya pun sudah terkoreksi tajam menuju level terendah sejak 2003. Direktur Perdagangan Fixed Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan BEI T. Guntur Pasaribu mengemukakan, dalam kondisi seperti itu, mestinya pelaku pasar tidak takut untuk masuk ke instrumen tersebut. ”Yield ORI bandingkan dengan BI rate. Dulu saat normal rentangnya 0,5-1 persen. Sekarang spread-nya 3,5-5 persen,” ujar Guntur kepada koran ini kemarin (28/10).


Data Himdasun menyebutkan, yield obligasi bertenor sepuluh tahun mendaki 1,07 persen menuju level 16,8 persen. ”Yield obligasi sudah sangat tinggi. Sejak ORI seri I, sekarang ini yield-nya paling tinggi. Fixed lagi, beda dengan deposito. Kalau suku bunga tahun depan turun, bunga deposito akan ikut menurun. Kalau obligasi negara kan fixed, kita bisa kipas-kipas,” kata Guntur.
Dia menuturkan, sebenarnya investor hanya panik, sehingga menarik dananya dari instrumen SUN. ”Kalau masyarakat tahu (segala sesuatu tentang obligasi negara, Red), kenapa nggak dimasukkan? (Investor) asingnya yang lebih panik,” ujarnya.
Menurut dia, kemampuan anggaran pemerintah masih sangat bagus. Karenanya, tak ada alasan untuk takut berinvestasi di sovereign debt (instrumen surat utang yang dijamin negara). Apalagi, harga minyak terus menunjukkan penurunan yang diharapkan mampu menguatkan anggaran negara. ”Bayangkan, jauh kan beda imbal hasilnya dengan deposito, misalnya. Apalagi, ini dijamin negara, tak mungkin gagal bayar,” jelasnya. ”Semestinya yang karakteristik investasinya jangka panjang seperti dana pension atau asuransi bisa lebih masuk berinvestasi di obligasi negara lewat secondary market,” sambung Guntur.
SUN sebelumnya dinilai punya risiko default yang tinggi dengan credit default swap (CDS). Di antara sejumlah negara, SUN punya angka risiko default lumayan tertinggi dengan mencapai 1.200 poin. Angka itu lebih tinggi dibandingkan risiko default sejumlah negara seperti Vietnam dan Filipina.
Meski nilai transaksi terus turun sejak September, Guntur mengatakan, untuk transaksi ORI masih cenderung stabil. ”Rata-rata masih Rp 226 miliar per hari khusus ORI mulai Januari sampai Oktober. Tahun sebelumnya transaksinya Rp 200 m per hari,” ujar Guntur.
Saat ini, rerata perdagangan SUN di lantai bursa mencapai sekira Rp 80-90 triliun per bulan. Capaian tertinggi terjadi pada bulan Januari, di mana transaksi obligasi negara di BEI mencapai Rp 90,46 triliun. Kala itu, outstanding obligasi negara sebesar Rp 469,55 triliun. Saat ini, total outstanding sudah mencapai Rp 540 triliun, di mana Rp 32,07 triliun di antaranya adalah obligasi ritel seri 001-004.
Terpisah, analis obligasi Danareksa Budi Susanto mengatakan, pasar surat utang negara diharapkan bisa pulih pada tahun depan. Ini karena risiko perekonomian mulai bisa ditebak arahnya. Seperti harga minyak dan tingkat inflasi di tanah air. (eri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: