Laba Rp 4 T, BCA Tahan Kredit

RADAR PALEMBANG, BCA-Industri perbankan nasional masih mengukir kinerja manis. Mayoritas emiten bank yang sudah memublikasikan laporan keuangan membukukan hasil manis, kendati ada yang sedikit melambat.


PT Bank Central Asia Tbk, misalnya, per September 2008, membukukan laba bersih sebesar Rp 4 triliun, tumbuh 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bunga bersih bank swasta nomor wahid itu melonjak 20,6 persen menjadi Rp 8,6 triliun. Seperti bank lainnya, kendati ada kenaikan bunga simpanan, marjin bunga bersih (NIM) BCA masih terjaga di angka 6 persen karena bunga kredit sedikit dikerek.
Dirut BCA D. E. Setijoso mengatakan, kondisi perekonomian dunia yang fluktuatif memang harus disikapi hati-hati. Sebab, krisis likuiditas begitu mengkhawatirkan. “Karena itu, kualitas likuiditas terus kami jaga,” ujarnya di Jakarta kemarin (29/10).
Per kuartal ketiga, kredit BCA juga masih mengucur deras, di posisi Rp 105,5 triliun. “Desember lalu (2007, Red) posisi kredit kami Rp 82,4 triliun, jadi ada tambahan sekitar Rp 23 triliun,” imbuh Wadirut BCA Jahja Setiaatmadja. Sementara sejak Juni-September, ada penambahan kredit Rp 10 triliun.
Bagaimana kuartal keempat? “Kita lebih hati-hati, susah untuk menebak krisis seperti saat ini,” tuturnya. Yang jelas, tak akan sederas kuartal ketiga di mana ada tambahan kredit Rp 10 triliun. “Kuartal keempat mungkin hanya Rp 4 triliun,” ujarnya. Namun, asalkan tidak ada lonjakan NPL, BCA yakin profitabilitasnya akan tetap terjaga.
Kredit korporasi mendominasi penyaluran kredit perseroan sebesar Rp 46,1 triliun. “Masih ditopang tingginya permintaan kredit dari sektor telekomunikasi, sawit, dan pertambangan,” terang Jahja. Sementara kredit komersial dan UMKM mencapai Rp 39,7 triliun. Kredit konsumer berupa pembiayaan kendaraan dan KPR sebesar Rp 19,8 triliun.
Meski kredit mengucur deras, BCA masih mampu menjaga tingkat NPL-nya di level 0,6 persen. Posisi DPK BCA sebesar Rp 192,9 triliun, di mana 76 persen di antaranya adalah giro dan tabungan.
Jahja mengatakan, kendati mayoritas kredit disalurkan ke korporasi yang bertenor panjang, sementara DPK mayoritas tabungan dan giro yang bisa ditarik sewaktu-waktu, BCA memastikan tidak akan ada mismatch yang mengkhawatirkan. “Dana murah kita lebih stabil, karena mayoritas digunakan untuk transaksi, kebutuhan bisnis sehari-hari. Bukan alat investasi semacam deposito,” jelasnya. (eri/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: