Bank Atasi Kesulitan Likuiditas

Kredit Tumbuh Rp 7-8 Triliun  Perminggu

RADAR PALEMBANG, TERATASI-Situasi krisis yang dialami perbankan kini mulai berangsur pulih. Kesulitan likuiditas (dana dipelihara dalam kas) sudah dapat diatasi dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Ini dapat dilansir dari suku bunga simpanan yang berada dalam range 9-10 persen.


Hal itu ditegaskan Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Perbankan Muliaman D Hadad, saat menjadi keynote speaker seminar nasional dalam rangka lustrum FE XI BI dan FE Unsri, di The Aryaduta Hotel, kemarin.
”Pantauan kami kondisi perbankan sekarang sudah jauh lebih baik. Apalagi kemarin kami sudah menurunkan angka giro wajib minimum (GWM) dari 9,5 persen menjadi 5 persen. Jadi ada tambahan 4,5 persen bagi perbankan,” tukas Muliaman.
Untuk itulah, total dana pihak ketiga yang tidak harus ditarik Bank Indonesia sekitar Rp 50 triliun. Dana ini bisa dimanfaatkan bank. Dia berharap agar dana tersebut tidak diberikan valuta asing, untuk itulah perlu dilakukan pengawasan.
Tingkat suku bunga di pasar uang sekarang berada dalam range normal yakni 9-10 persen. Disamping itu, segmentasi diantara perbankan bisa berakses langsung menjadi sumber likuiditas.
Beberapa minggu lalu perbankan memperketat likuiditas, penyaluran kredit melonjak sementara simpanan masyarakat mengalami penurunan. Untuk bisa menyalurkan kreditnya bank menjual aset-aset likuid yang dimiliki. Situasi ini sedikit berbeda dengan sebelumnya dimana dana perbankan yang tersimpan di SBI mengalami peningkatan tinggi, tetapi belakangan dana dalam SBI sudah mengalami penurunan. Masyarakat kini sudah cukup jeli untuk mencari investasi alternatif selain deposito seperti obligasi, pasar modal dan lainnya
Lebih jauh dijelaskannya, sampai dengan Bulan September lalu pertumbuhan kredit (y-o-y) yang terjadi lumayan cepat yakni 36 persen. Pertumbuhan yang terlalu cepat ini dianggap bank sentral membahayakan. Idealnya, kredit tumbuh jangan terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Jika cepat timbul kemacetan sedangkan terlalu lambat mempengaruhi perkembangan sektor riil.
Mengenai suku bunga acuan BI rate yang sekarang berbanding terbalik dengan keadaan Amerika Serikat, dikatakan Muliaman terjadi perbedaan situasi antara Indonesia dengan AS. Di negara tersebut justru tengah digencarkan pemberian kredit, sehingga kini terus diturunkan tingkat suku bunga dengan harapan ekonomi terstimulir. ”Jadi back ground kita dengan mereka agak berbeda.”
Tetapi dengan hantaman krisis yang terjadi lumayan cepat ini mengubah kondisi perbankan dalam waktu satubulan terakhir. Pekan ini Indonesia mengalami guncangan krisis AS. Kesulitan lembaha keuangan raksasa yang dialami luar negeri menimbulkan kepanikan seluruh pelaku ekonomi.
Hal ini menyebabkan pengurangan pembiayaan di sektor produksi, tentunya konsekuensi yang terjadi pertumbuhan ekonomi dunia akan alami perlambatan. Indonesia sebagai bagian dari intergral ekonomi global juga terkena. ”Tapi kita tetap minta kepada bank kendalikan likuiditasnya kemudian kredit UMKM jalan terus.”
Namun, pertumbuhan ekonomi nasional sampai dengan triwulan ketiga tahun ini masih tetap bagus, rata-rata 6 persen. ”Angka sampai September ini belum kami sangsikan tetapi pada Oktober ini dugaan kami akan ada perubahan, sehingga kami akan prediksi apa yang akan terjadi sampai dengan akhir tahun ini,” tandasnya.
Sampai dengan September 2008 ini rata-rata pertumbuhan kredit nasional perminggu mencapai Rp 7-8 triliun. Prediksinya kondisi sekarang sudah ada penurunan, nemun belum diketahui pastinya.
Kebijakan yang dikeluarkan bank sentral dalam hal ini membuat tiga peraturan pengganti undang-undang (perpu) diharapkan mampu mengatasi situasi pelik ini, salah satunya memperbesar jaring pengaman di sektor keuangan. Perpu ini juga menegaskan upaya yang bisa dilakukan pemerintah dalam mencegah krisis.
Terpisah Direktur Utama Bank Sumsel Asfan Fikri Sanaf mengatakan, sejauh ini penyaluran kredit yang digelontorkan bank pembangunan daerah ini sudah optimal sekitar Rp 3,5 triliun. Sampai saat ini tidak dilakukan revisi atas target tersebut.
Sektor kredit yang banyak digelontorkan dalam kelompok konsumtif yang memang menjadi pangsa pasar bank ini. Kredit konsumtif yang dikelola bank tersebut mencapai 60 persen, utamanya diberikan bagi PNS mengingat dana yang dikelola terbanyak berupa APBD. Sedangkan sisanya 40 persen disalurkan bagi sektor produktif khususnya UMKM (plafon kredit kurang dari Rp 5 miliar).
Disinggung mengenai permintaan bank sentral untuk mulai memperketat kredit mengatasi kekurangan likuditas, Asfan berujar, meski penyaluran kredit optimal tetapi tidak seluruh dana itu disalurkan kembali ke masyarakatdalam bentuk kredit. Terlihat dari angka loan to deposit ratio (LDR) Bank Sumsel yang mencapai 45 persen. ”Memang bank besar BUMN itu (LDR) sudah mencapai diatas 80 persen. Bank Indonesia meminta bank untuk mengerem bukan berarti menyetop. Dalam arti kata tetap kucurkan kredit tetapi berhati-hati karena kita sedang dalam krisis ekonomi global,” jelas dia.(ade)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: