BPR Mulai Terkena Imbas Krisis

RADAR PALEMBANG, KENA-Krisis finansial tidak hanya dialami perbankan umum saja tetapi juga mulai dirasakan bank perkreditan rakyat (KPR). Meski banyak membidik sector mikro, namun bank ini menemui kendala dalam hal penghimpunan dana. Terhitung minggu ini penghimpunan dana deposito turun kurang dari 1 persen.


Kondisi inilah yang dirasakan BPR AL Falah yang berlokasi di Sukajadi KM 14 Palembang. Semenjak seminggu terakhir terjadi perlambatan penghimpunan dana tabungan maupun deposito. Kemampuan masyarakat untuk menyimpan dana mengalami penurunan karena pendapatan yang mereka miliki juga berkurang. “Turunnya juga sedikit kurang dari satu persen,” ungkap Direktur Umum BPR Syariah Al Falah, H Barori Basri, kemarin.
Saat ini total dana pihak ketiga yang terhimpun mencapai Rp 3-4 miliar sementara pembiayaan yang tersalur Rp 5 miliar. Tak hanya penghimpunan dana yang terkendala, melainkan juga penyaluran kredit. Meski pembiayaan sektor produktif bukan pasar utama BPR ini, namun ada juga pembiayaan yang diberikan bagi petani karet. Harga komoditas itu yang mengalami penurunan membuat proses pengembalian angsuran menemui hambatan.
’’Besarnya kredit yang diberikan itu rendah hanya Rp 50 juta. Tetapi dengan kondisi seperti ini, kami tidak serta merta memberi hukuman kepada mereka tapi kami bantu mencarikan solusinya, mungkin kita rescheduling lagi seperti memperpanjang jangka waktu, misalnya dari satu tahun ditambah jadi 1,5 tahun,’’ucap Barori.
Bank BPR, sahut dia, tidak bisa berbuat serta merta seperti bank konvensional seperti meningkatkan suku bunga. Tertenting yang jadi perhatian BPR ini yakni menyangkut kemampuan debitur untuk mengembalikan dana yang sudah dipinjam.
Pasar pembiayaan produktif, kata dia, tidak akan diperbesar BPR AL Falah. Pembiayaan di sektor ini sudah ada porsinya di bank konvensional. Sebab, umumnya plafon pinjaman yang diberikan bagi sektor ini lumayan besar yang sudah diluar jangkauan BPR.
”Sampai sekarang pembiayan bagi sektor pertanian (produktif) masih sedikit sekali, paling hanya di bawah 1 persen. Kebanyakan pembiayaan kami disalurkan bagi kelompok usaha batubata dan pedagang kecil yang ada di sekitar kantor,” sahut Barori, pangsa pasar BPR ini menjangkau sampai wilayah Bayuasin.
Untuk mengatasi pengurangan pendanaan yang mulai dialami bank, pihaknya sudah melakukan sejumlah strategi. Misalnya mengumpulkan dana dari celengan masjid untuk disimpan di bank. Atau bekerjasama dengan sekolah-sekolah untuk mengumpulkan uang saku siswa yang akan ditabung di bank.
Selain menemui hambatan dalam penghimpunan dana serta pemberian kredit bagi sektor produktif, program lingkage bersama bank umum juga menemui kendala. Bank umum yang kini menaikan bunga pinjaman menyulitkan BPR untuk bekerja sama. ”Kami memang ada rencana menggandeng Bank Sumsel Syariah tetapi margin mereka tinggi sampai 18 persen, dengan margin setinggi itu berapa lagi harus kami jual ke nasabah. Sekarang proses lingkage ini masih dalam taraf negosiasi, ada sekitar Rp 1 miliar dana yang kami butuhkan dari kerjasama ini,” jelasnya.(ade)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: