Krisis, Penjualan PT Timah Turun

RADAR PALEMBANG, TIMAH-Krisis keuangan yang menyebabkan resesi ekonomi global membuat pasar timah menciut. Imbasnya, penjualan PT Timah Tbk yang merupakan salah satu eksporter terbesar dunia pun diprediksi turun.


Dirut PT Timah Wachid Usman mengatakan, ancaman resesi membuat permintaan timah di pasar internasional turun. Karena itu, dia memperkirakan angka penjualan tahun ini hanya akan mencapai 50.000 ton atau turun cukup jauh dari penjualan tahun lalu yang mencapai 58.000 ton. ’’Dengan kondisi sekarang, permintaan memang turun,’’ ujarnya di sela acara diskusi good corporate governance di Gedung Kementerian BUMN kemarin (30/10).
Untuk 2009, kata Usman, pihaknya berharap bisa menjaga angka penjualan di kisaran 50 – 60 ribu ton. ’’Tapi, kami tetap berpegang pada kondisi pasar. Kalau memang ada shortage (kekurangan, Red) maka volume akan digenjot,’’ katanya.
Terkait harga timah di pasar internasional, Usman menilai belum mencerminkan harga sesungguhnya. Menurut dia, harga di pasar Londone Metal Exchange (LME) masih dibentuk oleh sentimen pasar yang diciptakan para spekulan. Apalagi, disinyalir ada stok timah yang beredar di luar pasar legal. ’’Akibatnya, orang berspekulasi dengan harga rendah,’’ terangnya.
Dia menyebut, harga timah yang fluktuatif menjadi sinyalemen bahwa spekulan masih bermain. Setelah sempat bertengger di atas level USD 20.000 per ton, dua minggu lalu harga anjlok ke kisaran USD 11.000 per ton. Namun, ssaat ini harga kembali bergerak naik ke level USD 15.000 per ton. ’’Kami berharap, harga bisa stabil di atas USD 18 ribu per ton,’’ sebutnya.
Menurut Wachid, faktor fundamental sebenarnya sangat mendukung harga bergerak naik. Dia mengatakan, saat ini stok timah sangat ketat. Bahkan, di LME, stok timah tinggal 3.000 ton, dari kebutuhan 1.000 ton per hari. ’’Jadi, hanya cukup untuk tiga hari. Kalau tidak ada suplai ke pasar, habis sudah stoknya. Ini membuat konsumen timah ketar-ketir, sehingga harga harusnya naik,’’ ujarnya.
Sebelumnya, Mantan Dirjen Mineral, Batu bara, dan Panas Bumi Departemen ESDM Simon . Sembiring yang kini menjadi Staf Ahli Menteri ESDM mengatakan, Indonesia yang merupakan eksporter timah terbesar dunia, mulai memainkan peran strategisnya untuk mengontrol harga timah dunia. ’’Caranya dengan melakukan pembatasan produksi,’’ katanya.
Aturan tersebut menyebutkan kuota produksi timah nasioal harus berada di kisaran 90.000 – 100.000 ton per tahun. Kuota tersebut akan dibagi secara proporsional kepada perusahaan-perusahaan produsen timah.
Sebelumnya, ketika pada 2006 angka ekspor mencapai 120 ribu ton, harga pun jatuh. Bahkan, saat praktik perdagangan ilegal marak pada 2003 hingga 2005, harga bijih timah di Bursa Logam London atau London Metal Exchange merosot hingga di level USD 4.500 hingga USD 7.500 per ton. (owi/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: