Rupiah Terkendali karena Faktor Global

RADAR PALEMBANG, RUPIAH-Pergerakan nilai tukar rupiah memberi sinyal positif. Kemarin rupiah bergerak sideways dengan arah menguat ke level Rp 10.650 per dolar AS. Sama seperti lusa kemarin, rupiah juga sempat bergerak di kisaran Rp 10.400 per USD.


Chief Economist Bank BNI Tony Prasentiantono mengatakan, meski rupiah mulai terkendali itu bukan mutlak karena jurus-jurus yang dikeluarkan pemerintah. Menurut dia, faktor eksternal lebih kuat pengaruhnya.
”The Fed menurunkan suku bunganya. Bisa jadi faktor eksternal ini lebih kuat pengaruhnya,” jelasnya. Kini, spread bunga The Fed dan BI rate kian lebar (9,5 persen berbanding 1 persen). Dengan begitu, ada potensi hot money dari luar negeri mengalir untuk memburu untung bunga di Indonesia.
Aksi pangkas Fed Fund Rate sebesar 50 basis poin menjadi 1 persen memang langsung disambut antusias pasar. Penurunan bunga The Fed diikuti Bank Sentral Hongkong yang mengoreksi suku bunganya 50 basis poin menjadi 1,5 persen. Selain itu, Taiwan juga menurunkan bunga 25 basis poin menjadi 3 persen.
Bank Sentral Jepang hari ini mengadakan rapat terkait besaran suku bunga. Saat ini, suku bunga Negara Matahari Terbit itu bertengger di 0,5 persen. Pasar berekspektasi otoritas moneter di Jepang mengoreksi suku bunganya 25 basis poin menjadi 0,25 persen.
Tony mengemukakan, kurs USD 1 yang ekuivalen dengan Rp 11.000 sudah undervalued bagi rupiah. ”Itu sama halnya dengan USD 1 = 1,25 euro atau USD 1 = 1,5 pound yang juga undervalued bagi euro dan pound,” jelasnya.
Konsekuensinya, sesuai mekanisme pasar, jika posisi sudah undervalued, maka besar kemungkinan selanjutnya akan terjadi rebound. ”Itu untuk menemukan ekuilibrium baru. Saya memperkirakan ekuilibrium baru rupiah sekitar Rp 9.800 hingga mendekati Rp 11.000,” ramalnya. ”Jadi posisi sekarang masih ada room untuk rupiah menguat lagi,” imbuhnya.
Supaya rupiah lebih kuat lagi, sambung dia, pemerintah harus segera menetapkan blanket guarantee alias penjaminan penuh dana pihak ketiga di bank. ”Itu membuat nasabah kita makin tenang, karena negara kompetitor seperti Malaysia dan Singapura sudah memberlakukan penjaminan hingga 2010,” ujar Tony.
Wakil Ketua Umum Perbanas Jahja Setiaatmadja mendukung penuh pemberlakuan blanket guarantee. Hal tersebut, mampu membuat nasabah lebih yakin terhadap nasib simpanannya di perbankan. Dengan begitu, tidak ada penarikan besar-besaran untuk dipindahkan ke bank asing. ”Memberi kepercayaan diri ke nasabah itu penting,” ujarnya.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi A. Sarwono mengatakan cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk menopang nilai tukar rupiah. Ini juga masih ditambah dengan pertahanan lapis kedua dengan adanya billateral swap agreement antara ASEAN plus 3.
Hartadi mengatakan total cadangan siaga yang disiapkan tiga negara mencapai USD 12 miliar. Yakni Jepang USD 6 miliar, Tiongkok USD 4 miliar, dan Korea Selatan USD 2 miliar. ”Ini untuk mengingatkan kepada pasar bahwa kita punya amunisi. Apabila diperlukan bisa digunakan,” kata Hartadi. Sedangkan cadangan devisa Indoenesia masih setara dengan empat bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
BI Rate Harus Dikoreksi

Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo berpendapat BI sebaiknya menanggalkan dulu strategi BI rate yang tinggi sebagai alat pancing hot money atau dana asing jangka pendek. Dia beranggapan sebelum konsolidasi sektor keuangan dan sistem perbankan di AS dan Eropa rampung, strategi ini tidak efektif.
”Lebih strategis dan efektif jika BI menurunkan BI rate, mengikuti tren global penurunan suku bunga acuan,” kata Bambang. Suku bunga yang moderat atau rendah amat diperlukan untuk menggerakkan dan mendinamisasi perekonomian. Suku bunga rendah juga bakal meringankan beban dunia usaha, serta memberi tambahan daya konsumsi masyarakat.
Penarikan investasi asing pada aset berdenominasi rupiah yang masih terjadi kini mengindikasikan BI rate hingga 9,5 persen gagal menahan dana asing bertahan di dalam negeri. Bahkan, belum menarik minat pengelola dan investor asing menempatkan dananya di pasar Indonesia. ”Strategi BI rate yang tinggi jadi tidak relevan dengan kecenderungan itu,” kata Bambang.
BI tak perlu khawatir inflasi meningkat jika BI rate diturunkan. Ini karena inflasi dalam beberapa bulan ke depan bisa ditekan jika imported inflation bisa diminimalkan. (sof/eri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: