TBS Petani Plasma Terbengkalai

RADAR PALEMBANG, MUARA ENIM – Antrean ratusan truk pengangkut tandan buah segar (TBS) milik petani plasma di depan pabrik pengolahan cruide palm oil (CPO) PTPN VII Unit Sungai Lengi (Suli) semakin panjang. Hingga kemarin (30/10), pabrik masih menahan truk-truk tersebut. Sementara truk-truk pengangkut TBS milik inti dibiarkan petugas masuk ke pabrik dan bisa leluasa mengangkut TBS miliknya sendiri.


Padahal sesuai instruksi Bupati Muara Enim Kalamudin Djinab, PTPN VII Unit Suli berkewajiban menerima TBS milik petani plasma. Hanya saja instruksi tersebut dipatuhi pihak perusahaan tak lebih dari satu hari.
Salah satu sopir truk itu, Karman (45), warga Plasma Unit VI mengaku jika truk yang ia kemudikan telah tertahan selama tiga hari sebelumnya di depan pabrik. Sedangkan truk pengangkut TBS milik inti bisa masuk leluasa dan ia hanya bisa menyaksikan ketika pihak pabrik menyuruh truk TBS inti masuk. Padahal katanya, ia dan beberapa rekan lainnya telah lama menunggu bahkan ada yang telah menunggu sejak hari Senin (27/10) lalu.  Ia sendiri mengatakan dengan adanya penolakan TBS milik plasma ini, disamping merugikan petani sendiri juga merugikan ia dan rekannya sesam sopir pengangkut TBS itu.
“Kapasitas pengolahan pabrik itu normalnya 60 ton per jam, sedangkan kita hanya 8 ton per truknya. Ini masih banyak buah sawit yang berada di lokasi yang harus diangkut, bahkan ada buah sawit petani yang sudah mulai membusuk. Bagi kami sopir pengangkut, setiap harinya kami bisa mengangkut satu rit dalam satu harinya, namun semenjak adanya penolakan ini kini menjadi 3 atau 4 hari dalam satu harinya, jelas mempengaruhi pendapatan kami,” ungkapnya yang mengaku mendapatkan upah ongkos angkut sebesar Rp 200 ribu untuk setiap kali angkut ini.
Karman melanjutkan dulunya setelah ada instruksi dari Bupati langsung mengenai penerimaan TBS milik petani plasma, pihak PTPN VII Unit Suli memang memperlancar masuknya buah sawit. Tetapi instruksi itu katanya hanya dipatuhi satu hari saja, setelah itu pihak perusahaan kembali menahan truk-truk TBS milik plasma dengan alasan kuota yang ada telah terpenuhi dan harus menunggu kuota hari berikutnya.
Zainal (50), salah satu petani kelapa sawit yang juga berprofesi sebagai sopir ini juga mengungkapkan hal yang hampir sama, ia sendiri mengatakan dulu pihak perusahaan menolak sawit petani plasma dengan alasan buah sawit yang dipanen mentah, tetapi setelah dicek di pabrik pengolahan PT Bumi Sawindo Permai (PT BSP) buah sawit tersebut malah dinilai “super” atau sangat baik oleh perusahaan itu. “Ini hanya dalih pihak perusahaan untuk menolak TBS milik petani plasma saja,” katanya pula.
Sementara itu ketika permasalahan ini mau dikonfirmasi wartawan ke pihak perusahaan, salah satu pihak keamanan pabrik Zulfahmi (35) menghampiri rombongan wartawan dan mengatakan pihaknya tidak berhak memberikan statemen resmi.
Ketua KUD Unit Plasma Makmur Maryanto menjelaskan jika TBS milik petani plasma dibiarkan tanpa ada penyelesaian dari pihak pabrik sendiri, dikhawatirkan sebanyak 250 ton TBS yang berada di atas truk saat ini dan 800 ton TBS milik petani plasma di Gunung Megang dan Muara Enim yang saat ini berada di areal akan segera membusuk. Sebab kata dia, TBS itu bisa dibiarkan di tempat terbuka paling lama satu minggu, maka jika lebih dari itu bisanya buah sawit akan rontok dari tandan.  Ia sendiri mensinyalir tidak diterimanya sawit petani plasma ini dikarenakan ada oknum pihak pabrik yang mempermainkan harga, artinya menurut dia dengan dalih pihak perusahaan tidak bisa menerima TBS karena mesin pengolahan TBS mengalami kerusakan satu jalur yang seyogyanya bisa dipakai dua jalur, maka petani yang cemas ini akan menjual TBS dengan harga murah.
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi II DPRD Muara Enim Edi Rahmadi meminta PTPN VII Unit Suli untuk menerima TBS milik plasma, karena menurutnya hal itu wajib dipenuhi pihak perusahaan terhadap petani binaannya. Sementara dewan sendiri akan segera memanggil pihak perusahaan sebab perusahaan telah mengingkari janjinya dengan Bupati Muara Enim Kalamudin D sebagai fasilitator yang waktu itu membuat kesepakatan bersama petani. (yan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: