Ekspor Kopi tak Capai Target

RADAR PALEMBANG, KOPI-Kesulitan penjualan kopi ke luar negeri akibat pengaruh krisis global, membuat ekspor biji kopi tahun ini tidak capai target. Dari 6 ribu ton yang diperkirakan mampu terjual selama 2008 ternyata yang terealisasi hanya sekitar 1.000-2.000 ton.


Hal tersebut diungkapkan staf pengurus Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia (AEKI) Sumsel, Tony AK SE, kemarin. Turunnya volume ekspor tersebut utamanya terjadi pada negara importir seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. ”Untuk mengatasi ini kami akhirnya melakukan penjualan ke dalam negeri,” ujarnya. Penurunan ini terjadi semenjak dua bulan terakhir.
Kopi yang dijual tersebut dalam bentuk bubuk kopi yang sekarang harganya masih tinggi. Cenderung kopi bubuk itu dijual ke Jawa. Hanya saja untuk pengolahan kopi menjadi bubuk membutuhkan biaya tinggi, sementara saat ini pengusaha tengah alami masa sulit. ”Makanya ada juga kopi itu yang kami simpan untuk diekspor lagi ketika harga sudah membaik dan ada pembeli.”
Kesulitan keuangan yang dihadapi pengusaha juga terkait dengan tingginya suku bunga kredit bank. Wacana yang akan menurunkan suku bunga acuan BI rate, malah disikapi dingin oleh Tony. Tetapi apabila penurunan tersebut persentasenya tinggi tentunya akan menggairahkan bagi pengusaha. Dana yang diserap dari perbankan akan digunakan pengusaha untuk berusaha mencari pasar.
”Sebetulnya, yang terpenting sekarang bukanlah tinggi atau tidaknya bunga kredit bank. Bila situasi krisis sekarang bisa diatasi, perekonomian dibuat stabil kembali serta kurs rupiah tidak terlalu bergejolak, pembeli kopi dari luar negeri akan jadi bergairah. Jadi meskipun bunga tinggi tetapi kopi produksi yang ada tidak idle, semuanya terjual. Tidak akan masalah,” jelas Tony.
Dia menambahkan, pemilihan presiden di AS secara keseluruhan tidak mempengaruhi turunnya volume penjualan ekspor. Krisis yang dialami ini tidak ada hubungannya dengan pemilu AS.
Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah yang tinggi beberapa bulan lalu ternyata memacu kenaikan harga kopi internasional. Bubuk hitam ini mencapai posisi puncak kala itu di USD 2.400 perton atau Rp 22.080 perkilogram. Harga ini merupakan harga tertinggi sejak 30 tahun terakhir.
Kenaikan harga kopi terjadi lantaran bursa komoditas kini tengah diminati investor. Namun, seiring dengan mulai turunnya harga minyak mentah dari semula mencapai puncak USD 146 perbarrel dan pernah tergerus di USD 128 perbarel, harga kopi ikut turun. Sebulan terakir, harganya turun di USD 2.300 perton dan terus bergerak turun.(ade)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: