Plat Merah Hadapi Tantangan Baru

RADAR PALEMBANG, BAIK – Tiga BUMN yang beroperasi di wilayah Sumsel, PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Semen Baturaja (PTSB), menunjukan kinerja yang baik di sepanjang tahun 2008. Namun di 2009, perusahaan plat merah memiliki tantangan baru, efek dari krisis global di pengujung 2008.

PT Pusri memiliki kinerja yang cukup baik khususnya di unit produksi yang mencapai 100,8 persen amoniak dan pupuk urea 99,00 persen. Pencapaian profit atau keuntungan PTBA, lebih fantastis lagi. Sebelumnya, PTBA memasang target produksi hanya 10 juta ton batubara tahun 2007 lalu, namun pada 2008 produksinya lebih dari itu. PTSBA mengalami hal yang sama dalam produksi usahanya (lihat tabel).

Direktur Utama PT Pusri Dadang Heru Kodri, mengatakan saat ini atas instruksi pemerintah, pihaknya sedang merencanakan revitalisasi terhadap pabrik yang telah melampaui usia rata-rata 30 tahun. Pabrik yang masuk dalam rencana tersebut adalah Pusri II, Pusri III, dan Pusri IV.

Kegiatan revitalisasi ini bisa berjalan jika pemerintah bisa menjamin pasokan gas. Sebab hal itu berkaitan erat dengan pendanaan dari perbankan, sindikasi bank meminta adanya jaminan pasokan gas untuk kelangsungan produksi Pusri. “Kalau dana yang dimiliki Pusri mungkin hanya cukup untuk equity-nya saja,” ungkapnya disela-sela acara Pengantongan Pupuk Urea Akhir Tahun 2008 & Pengantongan Pupuk Urea Perdana Tahun 2009 di pabrik Pusri, Rabu (31/12).

Selain usia pabrik yang sudah tua, faktor lain yang mengharuskan revitalisasi pabrik tersebut adalah efisiensi. Karena pemerintah meminta pabrik yang menggunakan gas di atas 33 mmbtu harus segera diganti. Sementara di Pusri, hanya pabrik Pusri I B yang menggunakan gas antara 26 – 28 mmbtu.

Menurut Dadang, dana yang dibutuhkan untuk revitalisasi satu unit pabrik seperti yang dimiliki Pusri, dibutuhkan USD 700 juta. “Jika harus membangun di lokasi baru, maka biayanya akan lebih mahal dari yang diperkirakan,” paparnya.

Diungkapkan Dadang, kalau Pusri II, Pusri III, dan Pusri IV diganti maka kapasitas pabrik baru nantinya diperkirakan bisa mencapai 2 juta ton per tahun. Menurut rencana yang telah disusun oleh Pusri, revitalisasi tersebut baru akan direalisasikan pada tahun 2010. “Tapi kalau pemerintah minta dipercepat (2009), ya bisa saja dilaksanakan dengan segera,” sambungnya.

Diungkapkan GM Produksi PT Pusri Sudadi Kartosomo dalam laporannya menyebutkan kinerja unit produksi PT Pusri secara umum cukup baik. Hal itu terbukti dengan pencapaian produksi NH3 (amoniak) sebesar 100,8 persen dan pupuk urea 99,00 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2008. Diterangkan Sudadi, sampai dengan akhir tahun 2008, produksi amoniak mencapai 1.301.990 ton dari target 1.291.700 ton. Sementara untuk pupuk urea terealisasi 1.950.310 ton dari target RKAP 1.970.000 ton.

Sedangkan laporan pemasaran pupuk PT Sriwidjaja selama tahun 2008 yakni sebesar 1.732.123 ton untuk pupuk Urea, 3.326 ton untuk pupuk TSP/SP-36, 12.599 ton untuk pupuk ZA dan 7.855 untuk pupuk KCL.

Ditambahkan Sudadi untuk saat ini pabrik yang memiliki on stream days dengan peringkat terbaik di tahun 2008 yakni pabrik Pusri III. Pabrik yang dibangun tahun 1976 tersebut mampu beroperasi selama 362 hari untuk produksi amoniak dan urea plan 358 hari. Urutan selanjutnya adalah pabrik Pusri II yang beroperasi 359 hari dengan urea plan 340 hari. Pabrik Pusri IV menduduki posisi ketiga dengan waktu operasi 320 hari dengan produksi urea 336 hari. Terakhir adalah pabrik Pusri I B yang dibangun pada tahun 1990, yang hanya mampu beroperasi 297 hari dan urea plan 294 hari. “Dua pabrik terakhir tidak maksimal karena menjalani turn around (TA),” terangnya.

Dijelaskan Sudadi kendala yang dialami lini produksi masih seputar permasalahan pasokan gas. Pabrik Pusri beberapa kali mengalami gangguan terkait kerusakan atau gagalnya peralatan transmisi gas dari Pertamina baik kompresor maupun terjadinya kondensat yang terbawa gas alam yang masuk ke pabrik. Selain itu bagian produksi juga masih dihadapkan adanya kerusakan peralatan pabrik baik rotating, non rotating, listrik, maupun instrumentasi.

Profit PTBA Over Target

Pencapaian profit atau keuntungan PTBA dalam satu tahun belakangan ini cukup fantastis dengan melebihi target yang diincar tahun sebelumnya. Sebelumnya, PTBA sendiri memasang target produksi hanya 10 juta ton batubara tahun 2007 lalu, namun pada tahun 2008 produksinya sendiri lebih dari itu. Dari produksi itu, penjualan pun mengalami peningkatan yakni dari 10,8 juta ton batubara tahun 2007 meningkat menjadi 12,6 juta ton batubara tahun 2008 lalu.

“ Dari hasil penjualan itu, kita mendapatkan keuntungan bersih yang sebelumnya awal tahun 2008 kurang dari Rp 1 triliun, selama tahun 2008 ini keuntungan PTBA melebihi itu mencapai Rp 1,5 triliun. Kita ketahui pada pertengahan tahun kemarin, harga batubara lumayan bagus, namun di akhir tahun karena dampak krisis global yang melanda belahan dunia juga berimbas terhadap penjualan produksi kita. Tapi dari sana kita mampu melampaui target tahun sebelumnya, bahkan keuntungan pun melebihi target, ini patut kita syukuri,” ungkap Direktur Utama (Dirut) PTBA Sukrisno saat menghadiri acara syukuran dan tausyiah tutup tahun 2008 bertempat di Masjid Jamik PTBA yang menghadirkan Ustadz Wahfiudin Sakam, Rabu (31/12).

Sukrisno mengatakan walaupun di awal tahun 2009 ini kondisi perekomian negara tujuan ekspor batubara sendiri mengalami krisis global finansial yang juga berdampak bagi negara Indonesia juga, namun dari semua itu diharapkan semua karyawan semakin meningkatkan kinerjanya di tahun berikutnya. Jika semua karyawan PTBA tetap berusaha, tidak tertutup kemungkinan, PTBA akan mampu mencapai target tahun 2009 nanti seperti tahun sebelumnya. “Dengan kerja keras semua, keberhasilan di tahun 2008 ini menjadi titik awal pencapaian PTBA emas. Insya Allah, keberuntungan dan keberhasilan kita tahun 2009 nanti semakin lebih baik dari tahun 2008 ini,” katanya.

Produksi PTBA yang tiap tahunnya selalu meningkat ini merupakan salah satu upaya untuk mencapai target PTBA Emas dengan produksi mencapai 50 juta ton batubara pada tahun-tahun berikutnya. Saat ini kata dia, dua kategori produksi penambangan yang ada selalu mengalami peningkatan produksi dari tahun sebelumnya.

Produksi Semen Tumbuh 6 Persen

Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2008, tidak berpengaruh pada produksi dan penjualan PT Semen Baturaja (PTSB). Bahkan jika dibandingkan dengan produksi dan penjualan tahun 2007, pada tahun 2008 ini justru mengalami peningkatan.

Sedangkan penjualan semen pada tahun 2007 yang mencapai 1.016.000 ton pada tahun 2008 meningkat menjadi 1.062.000 ton naik 46.000 ton atau 4 persen. Hal ini diungkapkan Direktur Utama PT SB Pamudji Rahardjo dalam acara pengantongan semen terakhir tahun 2008 dan pengantongan semen perdana tahun 2009.

Menurut Pamudji, meningkatnya produksi dan penjualan semen tidak terlepas dari meningkatnya permintaan masyarakat terutama menjelang akhir tahun. Kemudian untuk tahun 2009 pihaknya memastikan ada peningkat target baik produk maupun penjualan.

“Untuk produksi semen tahun 2009 ditargetkan sebesar 1.108.100 ton, produksi klinker ditargetkan 1.050.000 ton dan penjualan semen sebanyak 1.100.000 ton. Untuk menunjang usaha untuk mencapai target tahun 2009 tersebut, manajemen melalui unit kerja Sistem Informasi Manajemen (SIM) Departemen Litbang telah menyiapkan program Enterprise Resource Planning (ERP) JD Edwards yang akan diluncurkan terhitung mulai 1 Januari 2009. Diharapkan kehadiran program ini akan semakin mempermudah kerjasama antar unit kerja dalam membantu meningkatkan kemajuan perusahaan,” ujar Pamudji.

Meningkatnya produksi dan penjualan tentu berdampak pada meningkatnya kewajiban serta kontribusi PT SB selaku Badan Usaha Milik Negara kepada pemerintah pusat dan daerah. Kontribusi pajak PT SB kepada pemerintah pemerintah pusat pada tahun 2008 mencapai Rp 95 miliar. Angka ini lebih tinggi 134 persen dibandingkan tahun 2007 lalu. Sedangkan untuk Pemkab OKU sendiri pada tahun 2008 mencapai Rp 9,7 miliar atau lebih tinggi 124 persen dibandingkan tahun 2007.

Lalu kontribusi untuk Pemkot Palembang sebesar Rp 389 juta, Pemprov Sumsel sebesar Rp 327 juta dan Pemprov Lampung sebesar Rp 610 juta. Sedangkan untuk CSR (Corporate Social Responbility) tahun 2008 sebesar Rp 1,6 miliar.

Lebih lanjut Pamudji menambahkan, krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2008 berpengaruh pada naiknya barang-barang terutama sparepart pabrik, bahan baku penolong serta biaya jasa-jasa seperti angkutan, buruh, sewa peralatan dan lainnya. Kondisi ini diperparah dengan kurang maksimalnya angkutan klinker dengan keketa api sehingga untuk memenuhi kebutuhan klinker di pabrik Palembang dan Panjang terpaksa harus diangkut dengan truk yang biayanya lebih tinggi.

“Hal ini tentu menyebabkan biaya produksi (HPP) PT Semen Baturaja di tahun 2008 jadi meningkat. Lalu, selain kondisi perekonomian yang belum stabil serta kendala angkutan, berbagai hadangan lain juga terjadi di tahun 2008 terutama menyangkut stabilitas produksi. Akibat Kendala pasokan listrik PLN yang sering mengalami pemadaman baik di baturaja, Palembang maupun Panjang membuat produksi menjadi terganggu,” pungksnya. (iya/yan/awa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: