* Krisis Global Mengubah Gaya Berbelanja Warga Inggris

Juru Masak Harus Pandai-Pandai Rekayasa Menu

Krisis bukan hanya memukul industri ritel, tapi juga bisnis wisata dan hospitality seperti restoran. Mereka tertantang untuk menemukan kiat mengatasi kelesuan akibat warga Inggris yang lebih senang memilih tinggal di rumah.

—————-
NURANI SUSILO, London
——————-

LIBURAN Natal dan tahun baru kali ini terasa beda bagi warga Inggris. Kalau dulu mereka dikenal sebagai pelancong yang banyak memenuhi tempat-tempat wisata terbaik di dunia, krisis membuat mereka memilih tinggal di rumah.

Bahkan, baru saat terjadi credit crunch sekarang ini ada istilah yang populer di kalangan masyarakat; staycation.
Dengan staycation, warga memilih–kalau pun mau ber-vacation atau berlibur–tetap di Inggris dan tidak ke luar negeri. Bahkan, dalam bentuk yang ekstrem, tetap tinggal (stay) di kota atau di rumah. Karena itu, meski  travel agents (agen-agen wisata) memberikan iming-iming dengan menurunkan harga paket wisata ke luar negeri, warga tetap bergeming.
Di London, saat ini, Somerset House yang berada di pusat kota London menjadi tempat yang ramai dikunjungi warga kota. Anak-anak dan remaja mengisi liburan Natal dan tahun baru dengan bermain seluncur es di lapangan terbuka bangunan abad ke-18 yang pernah ditempati para raja-ratu Inggris. Kali ini, warga Inggris harus melupakan liburan ke tempat-tempat yang hangat saat negeri mereka didera musim dingin menggigil.
Seperti yang dilihat  JPNN, beberapa kantor agen wisata terlihat sepi. Poster-poster dengan huruf berukuran besar berbunyi “January Sale” untuk wisata luar negeri tetap tidak membantu. Wisata ke Australia selama 17 hari yang sudah dibanting menjadi “hanya” 1.199 poundsterling atau sekitar Rp19,5 juta, misalnya, sepi peminat.
Fenomena itu termasuk hal yang tidak biasa. Sebab, selama ini warga Inggris menganggap liburan minimal sekali dalam setahun bukan sebuah kemewahan. Ini sebagai keniscayaan atas kerja keras mereka mencari nafkah.
“Anda bisa hidup tanpa membeli mobil baru atau lemari es paling modern. Tapi, liburan bukanlah kemewahan. Bahkan, itu menjadi hal terakhir untuk dicoret saat krisis ekonomi,” kata Malcolm Bell, direktur South West Tourism, sebuah kawasan wisata paling ramai di Inggris, kepada The Times.
Malcolm Bell adalah salah seorang yang getol mengajak warga Inggris untuk tetap berwisata, terutama staycation alias menjadi wisatawan domestik di negeri sendiri.
Selain memilih staycation, warga Inggris saat ini juga mengurangi makan di luar (restoran) dan lebih  sering memasak sendiri di rumah. Bahkan, acara-acara keluar rumah, seperti nonton bareng di bioskop atau pergi ke bar, diganti dengan mengundang teman makan bersama di rumah. Hiburannya, main game bersama atau nonton DVD.
Sebuah survei oleh Halifax, perusahaan asuransi rumah, menyimpulkan bahwa credit crunch membuat 60 persen warga Inggris memilih tidak keluar rumah pada saat malam Minggu.  “Mereka menghitung biaya transpor, makan, minum, hiburan, dan pengeluaran lain saat bermalam Minggu di luar rumah cukup tinggi sehingga warga memilih untuk stay in. (Sebagai gantinya) mereka mengundang teman atau tetangga ke rumah,” kata juru bicara Halifax.
Saat krisis ini membuat orang-orang Inggris tidak lagi royal membelanjakan uangnya. Hasil survei Halifax, 84 persen responden mengaku sekarang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang dibanding sebelum krisis, serta 73 persen memilih membeli barang saat ada potongan harga. Bahkan, 15 persen responden memilih janjian pergi berbelanja bareng untuk menghemat BBM kendaraan.
Saat rakyat Inggris prihatin sehingga mengencangkan ikat pinggang seperti saat ini, para pejabat Inggris juga menjadi ekstrahati-hati. Mereka tak ingin dikesankan bermewah-mewah saat rakyatnya menderita. Karena itu, mereka pun memilih berlibur di dalam negeri  alias staycation.
David Cameron, ketua Partai Konservatif di Inggris, misalnya, pada liburan lalu memilih berjalan-jalan tanpa sepatu di sepanjang Pantai Harlyn Bay, dekat Padstow, Cornwall, salah satu kawasan pantai terkenal di Inggris. Mengenakan celana pendek hitam dan t-shirt berwarna biru, dia tampak menggandeng tangan istrinya, Samantha.
Penampilan tokoh partai oposisi itu dinilai unggul dalam apa yang disebut di satu media Inggris sebagai the battle of the beaches atau  pertarungan citra di pantai. Sebab, pada saat yang sama,  lawannya, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown yang juga ketua Partai Buruh, dianggap kurang “merakyat”. Sebab, dia terlihat mengenakan jas (meski tanpa dasi) saat berlibur di Southwlod, Suffolk, pantai timur Inggris.
Seperti halnya selebriti, di Inggris segala aktivitas para politisi terus dipantau warga. Bukan hanya kebijakan atau pandangan politiknya, tapi sampai pada masalah pribadi, istri, dan anaknya. Misalnya, di mana anaknya sekolah, tempat mereka berlibur,  hingga merek baju yang dikenakan.
Bedanya dengan selebriti, opini publik kepada politisinya itu kemudian diukur dalam survei (poll) sebagai prediksi popularitas di depan pemilih saat pemilu dilakukan. Dan pada musim liburan panas beberapa waktu lalu, arena pertarungan dua politisi itu berpindah dari Westminster (gedung Parlemen Inggris) ke pantai tempat mereka berlibur.
Penampilan santai David Cameron saat berlibur di Cornwall memang mendongkrak popularitasnya menjadi 20 persen. Namun, keunggulan itu tidak berlangsung lama. Sebab, setelah itu, dia melakukan kesalahan fatal, menikmati luxury holiday dengan menyewa kapal seharga 21 ribu poundsterling per minggu di sebuah pantai di Turki.
Tidak berhenti di Turki, David Cameron juga melanjutkan liburannya ke Georgia dengan menyewa jet pribadi. Meski pakai uang pribadi, politikus dari keluarga kaya itu dianggap hanya berpura-pura menampakkan kesederhanaan dalam liburan sebelumnya di Cornwall.
Anggota parlemen dari Partai Buruh, Denis MacShane, menganggap tindakan Cameron sebagai tidak pantas. “Ketika sebagian besar warga Inggris melakukan penghematan besar-besaran, dia malah dua kali berlibur,” katanya kepada Daily Mirror.
Dampak begitu ketatnya warga Inggris menyimpan dompet itu membuat banyak industri terpukul. Gaya hidup baru yang menyebut staying in is new going out (tinggal di rumah adalah pilihan baru pergi ke luar) membuat para pengusaha restoran ketir-ketir. Sebab, kelangsungan  industri restoran  atau hospitality industry  itu sangat penting bagi ekonomi Inggris. Sebab,  industri jasa bernilai 75 miliar poundsterling dan mampu menyerap hampir 2 juta tenaga kerja.
Berbagai kiat dilakukan. Misalnya, pemilik restoran meminta para juru masak melakukan “menu-engineering” alias mengakali menu agar bisa menekan pengeluaran sehingga harga jual bisa turun atau setidaknya tetap.
Pekerjaan rekayasa menu di restoran itu tidak gampang. Sebab, salah satu dampak krisis ekonomi tersebut adalah naiknya bahan-bahan makanan yang cukup signifikan. “Harga ikan naik 35 persen per kilogram. Demikian pula daging. Harga 1 kilogram beras sudah 5,5 pound, bahkan bawang merah naik 400 persen,” kata Duncan Ackery, direktur utama Searcy,  jaringan restoran yang besar di London. Restoran ini memiliki cabang di Galeri Tate, Barbican, Royal Opera House, Bath Pump Rooms, dan Gherkin.
Sadar atau tidak, kini pelanggan Searcy yang  pesan steak, misalnya, dapat potongan yang lebih kecil daripada sebelum krisis. Seperti yang diakui Dunkan Ackery, juru masak mengurangi porsi makanan di restorannya untuk menekan harga. Selain itu, juga mengganti menu dengan bahan-bahan alternatif yang lebih murah untuk tetap bisa bertahan.(el)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: