Harga Labil, Emas Sepi Transaksi

PALEMBANG, RP – Harga emas masih sulit dipredisik oleh para pelaku usaha. Setiap hari logam mulia itu fluktuatif. Hal ini membuat konsumen emas menunda melakukan transaksi.


Seperti diungkapkan oleh pengelola Toko Mas Senen yang berlokasi di kawasan Jalan Beringin Janggut II. Aksi beli yang biasanya ramai saat ini mulai mengalami penurunan, kemungkinan juga akibat harga yang sekarang tengah tinggi. “Begitu labilnya harga emas, pembeli kurang begitu  antusias  untuk melakukan aksi beli. Mereka sebagian besar menunggu harga turun,” ujar pria yang tidak bersedia namanya disebutkan, kemarin.
Emas menurut dia masih bisa turun, tetapi kisarannya masih sangat terbatas antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Posisi kemarin, investasi yang tak terpengaruh inflasi itu, diperdagangkan di level konsumen Rp 1,7 per suku (6,7 gram) berkadar 95 persen.
“Tetapi saya rasa, harga ini suatu saat bisa berubah drastic. Seperti tahun kemarin yang posisinya mencapai Rp 2 juta persuku. Untuk sementara ini agak sulit kami melihat perjalanan harga emas tersebut,” sahutnya.
Untuk itulah, mayoritas pedagang kini lebih berhati-hati saat melakukan transaksi emas baik bagi yang ingin menjual atau membeli. Pedagang akan menyesuaikan terlebih dulu dengan harga yang berlaku hari itu.
Pengadaan stok barang juga dibatasi. Pedagang tidak lagi bisa bebas membeli emas dalam jumlah banyak (borong), harga bisa berubah sewaktu-waktu. ”Kalau borong, kami bisa alami kerugian.”
Sementara mengenai emas berkadar tinggi, 97 persen, nilai jualnya jauh lebih tinggi dibandingkan emas dengan kadar 95 persen. Kandungan emas yang lebih banyak itu dihargai pedagang Rp 2.050.000 persuku. Khusus emas ini, stoknya dibatasi pedagang mengingat animo konsumen tidak terlalu besar. Kadar emas 95 persen yang lebih disukai masyarakat.
Pantauan koran ini, hampir semua toko emas di Beringin Janggut menjual logam mulia itu di harga Rp 1,7 juta persuku. Kalaupun ada yang jual di Rp 1,5 juta persuku, ini belum termasuk biaya upah yang kisarannya mulai dari Rp 180 juta perpieces.
Apa yang dikeluhkan pedagang ini seirama dengan pendapat konsumen. Sumiati warga 5 Ulu mengatakan, dengan tidak stabilnya harga emas membuat wanita yang bekerja di didepartemen sosial ini lebih memilih tidak melakukan pembelian ”Untuk sementara, saya lebih pilih mengalikan ke investasi lain seperti tanah. Beli emas harganya bisa naik secara tiba-tiba, lalu saat dibutuhkan harga tiba-tiba turun. Jadi menurut saya saat ini emas bukan pilihan yang tepat untuk berinvestasi. Tetapi kalau sekedar untuk gaya atau prestise saya kira bisa saja,” ulasnya semberi tersenyum.(kai)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: