Ekonomi Sumsel Kontraksi Negatif

Belum maksimalnya distribusi anggaran belanja pemerintah daerah selama periode awal tahun membuat sektor riil belum bergerak maksimal. Laju pertumbuhan ekonomi Sumsel ikut melambat.

PALEMBANG, RP – Pertumbuhan ekonomi Sumsel selama 2008, menurun hingga 0,7 poin atau 5,1 persen dibandingkan tahun 2007 sebesar 5,8 persen. Data BPS menyebutkan tiga sector mengalami kontraksi negatif.
Perlambatan ini hampir terjadi di semua sektor, hingga mampu mencatat angka perolehan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya sebesar Rp 133,4 trilliun.
Pemimpin BI Palembang Endoong Abdul Gani, mengatakan perkembangan bank mengikuti pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB). ”Bank akan tumbuh jika didukung dengan situasi ekonomi yang makin berkembang. Dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat, bisnis usaha akan berjalan lancar,” jelasnya belum lama ini.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Palembang Haslani Haris, dalam siaran persnya kemarin menjelaskan, pemicu utama penurunan ini adalah sektor pertanian khususnya subsektor perkebunan, industri pengolahan non migas, dan sektor perdaganganya.
Penurunan harga tajam sejak triwulan empat 2008 per Oktober 2008, membuat catatan angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan empat negatif. Sehingga memperlambat laju pertumbuhan ekonomi selama 2008.
Pertanian tercatat minus 20,5 persen, industri pengolahan minus 4,7 persen, perdagangan, hotel dan restoran minus 3,9 persen. Hanya beberapa sektor mengalami pertumbuhan positif, seperti jasa tumbuh 1,2 persen, komunikasi dan angkutan 5,2 persen, bangunan 1,3 persen, gas, air, listrik 1,1 persen, pertambangan 0,7 persen, sedangkan keuangan, persewaan, jasa perusahaan hanya tumbuh sebesar 0,3 persen.
Meskipun turun, dari sisi presentase pendapatan income per kapita cukup mengejutkan, naik signifikan menjadi Rp 15,9 juta dari Rp 13,3 juta tahun lalu (dengan migas) dan tanpa migas mencapai Rp 10,5 juta atau naik dari posisi tahun 2007 Rp 900 ribu.
Begitupun dari sisi perolehan nilai PDRB Rp 133,4 trilliun, pertambangan penggalian memimpin sumbangan tertinggi Rp 34 trilliun, industri pengolahan Rp 30,8 trilliun, baru Pertanian menyumbang Rp 23 trilliun, perdagangan, hotel dan restoran mencapai Rp 16 trilliun, jasa-jasa Rp 11 trilliun, disusul bangunan Rp 8 trilliun, angkutan Rp 5,5 trilliun dan keuangan Rp 4,5 trilliun.
Dari sisi penggunaan, sektor rumah tangga menempati posisi tertinggi nilai konsumsi mencapai 61,1 persen dari besaran perolehan PDRB. Lainya diikuti oleh konsumsi pemerintah 7,5 persen, konsumsi swasta Rp 1,1 persen, pembentukan modal tetap domestik bruto atau investasi fisik 22.0 persen, serta kebutuhan ekspor neto mencapai 9,6 persen.
Jika dilihat dari sisi sumber utama penyumbang angka pertumbuhan ekonomi 5,1 persen, adalah konsumsi rumah tangga mencapai 4,7 persen, diikuti ekspor barang jasa persen, pembentukan modal tetap domestik bruto 1,5 persen, konsumsi pemerintah 0,8 persen dan lembaga swasta 0,1 persen.
Sedangkan laju pertumbuhan penyumbang sumber PDRB. Laju pertumbuhan tertinggi ditempati sektor angkutan naik 13,9 persen dengan sumber pertumbuhan mencapai 0,7 persen.
Jasa-jasa dengan laju pertumbuhan 11,4 persen dan penyumbang sumber pendapatan 0,9 persen. Keuangan dengan laju pertumbuahn 8,6 persen dengan sumbangan sumber pertumbuhan 0,4 persen. Perdagangan laju pertumbuhan 7,1 persen dan penyumbang sumber pertumbuhan 1 persen. Sumber pertumbuhan tertinggi PDRB tetap sektor jasa, pertanian menjadi sumber penyumbang PDRB kedua dengan posisi 0,8 persen dan ketiga ditempati angkutan 0,7 persen.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) atau daya beli petani turun sejak 4 bulan terakhir. Posisi terakhir Desember 2008 tercatat turun 0,55 persen atau 95,93 persen.
Kabid Statistik BPS Palembang Nazaruddin menjelaskan, data yang dirilis terakhir Desember menunjukkan, dampak krisis global mempunyai pengaruh buruk sekali terhadap komoditas unggulan milik petani. Apalagi penurunan NTP sudah di bawah angka 100 persen atau di pisisi 95,93 persen.
Ini sama halnya dengan adanya ancaman terselubung perekonomian, jika tak ada solusi diimbangi dengan kebijakan pemerintah yang ada. Penurunan harga komoditas ini memang cukup signifikan, khususnya karet, sawit, dan kopi.
Padahal dari sisi nilai konsumsi atau indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik signifikan hingga 0,14 persen atau 115,21 persen dibandingkan sebelumnya 115,05 persen. Meskipun di sisi lain untuk petani berkutat di jenis Palawija dan Padi mengalami kenaikan nilai tukar, karena harganya relatif stabil dan naik. Sehingga posisi 105,94 persen. ( Asih Wahyu Rini )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: