Pengusaha Tepis Pemangkasan BI Rate

PALEMBANG, RP – Langkah bank Indonesia menurunkan bunga acuan SBI menjadi 8,25 persen beberapa waktu lalu, ternyata tidak mendapat tanggapan berarti dari kalangan pengusaha ritel. Sejauh ini penurunan tersebut belum diimbangi dengan turnnya bunga kredit.


Rata-rata bank bakal menurunkan bunga kredit untuk periide dua bulan ke depan. Rentan waktu yang dianggap terlalu lama itu, tidak menguntungkan pengusaha yang membutuhkan modal kerja lebih cepat.
Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Asperindo) Sumsel, H Hasannuri menyatakan, para pengusaha khususunya pengusaha ritel seperti pengusaha mal, supermarket, minimarket dan pedagang di ruko-ruko lainya, menganggap penurunan BI rate tak terlalu membawa angin segar bagi perkembanga bisnis mereka.
Penurunan BI rate ini tidak serta merta diikuti dengan penurunan suku bunga kredit perbankan yang sekarang masih dilevel 13 sampai 15 persen. Angka tersebut, dianggap masih sangat tinggi apalagi disaat krisis keuangan yang terjadi sekarang. Pendapatan pengusaha tergerus dalam akibat menurunnya daya beli masyarakat.
“Kami melihat penurunan suku bunga ini masih bersifat konvensional. Pengusaha ritel masih mengangap dingin kebijakan pemerintah tersebut. Seakan-akan yang lebih diuntungkan dalam kebijakan tersebut justru kepada perdagangan bursa efek dan perdagangan pasar saham,” tukas Hasannuri. Apalagi besarnya penurunan BI rate tersebut hanya sebatas 0,5 persen. Padahal pengusaha mengharapkan nilainya lebih dari itu.
Sementara itu, dari sisi perbankan, penurunan bunga kredit ini memang membutuhkan waktu. Vice President Bank Mandiri Regional II Palembang, R Paul Sianturi, biasanya bank membutuhkan waktu 2 sampai 3 bulan untuk melakukan revisi suku bunga.
Sebab, bank harus mengukur kekuatan dananya dari penghimpunan dana pihak ketiga. Komposisi dana mahal ataupun dana murah juga jadi perhitungan. Jika bank didominasi dana mahal (deposito) maka membutuhkan waktu cukup lama sebelum menurunkan bunga kredit.
“Bank harus menyesuaikan antara dana DPK dan pelemparan kredit ke masyarakat. Apalagi tahun ini bank lebih meningkatkan selektivitas kepada calon debitur, guna terjadi keseimbangan (balance). Ini juga upaya menjaga kesehatan bank tersebut,” ungkap Paul. (far)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: